Friday, March 11, 2016

How I Passed My Bachelor Degree With Struggle

Hai :))

Berdasarkan judul yang saya tulis, saya akan menceritakan perjuangan saya semasa kuliah tentang bagaimana saya bisa lulus dengan predikat cumclaude.

Untuk kebanyakan orang, lulus dengan IPK tinggi atau cumclaude adalah impian. Begitu pula dengan saya. Saat semester pertama saya menjalani masa perkuliahan, saya ingat pernah menuliskan mimpi saya untuk bisa menyelesaikan kuliah dengan predikat cumclaude. Dengan 'anteng'nya saya menuliskan mimpi tersebut di notebook saya, dan dengan keyakinan 'saya pasti bisa'.

Kenapa saya yakin? sejujurnya, keyakinan ini tidak berdasar. Saya menjalani kuliah semester pertama dengan sangat santai. Saya pikir, akan mudah mendapatkan nilai, akan mudah dosen mendongkrak nilai, akan sangat gampang mendapatkan nilai A, dan sebagainya. Saya beranggapan, semua tidak akan sulit. Intensitas hangout bareng teman-teman kuliah pun lebih tinggi daripada intensitas belajar. Laporan praktikum pun saya buat dengan motto 'yang penting jadi', peduli buset isinya bakal saya mengerti atau tidak. Dan berjalanlah semester satu dengan penuh keceriaan, tidak ada beban karena percaya akan mendapatkan IP yang tinggi. Tidak ada rasa persaingan atau takut sedikit pun, karena keyakinan dan kepercayaan diri saya yang tinggi saat itu.

Sampailah di akhir semester ketika nilai kuliah satu persatu keluar......

Apa yang terjadi?

Yah. Nilai saya sangat tidak memuaskan. Sangat jauh dari ekspektasi. Sangat jauh dari perkiraan saya. Sangat jauuuuhhh......... Jujur, saya tidak menyangka akan mendapatkan IP sebegitu rendah menurut versi saya saat itu, bukan songong ya karena saya tahu lebih banyak juga yang mendapatkan IP di bawah nilai tersebut, namun karena perbandingan antara ekspektasi dan kenyataan yang sangat jauh berbeda sehingga saya sangat down. Saya mendapatkan IP 3.00, pas, tidak lebih dan kurang. IP pertama saya, yang pada awal semester saya pikir bisa mendapatkan IP 3,5 keatas. Jeblok. Jauh dari perkiraan.

Saat saya mengetahui IP pertama saya, hal pertama yang saya pikir adalah apakah dengan IP segini saya bisa melanjutkan beasiswa saya?! Bagaimana jadinya kalau saya tidak bisa melanjutkan beasiswa saya?! (IP jeblok kok mikirnya keselamatan duit beasiswa ya hahaha, tapi bener, ini fakta)

Fyi, saya mendapatkan salah satu beasiswa dari perusahaan swasta yang ada di daerah saya, dimana beasiswa ini akan mengontrak kita selama 5 tahun masa perkuliahan, tanpa perlu mendaftar ulang dan ikut seleksi beasiswa setiap tahun ajaran baru seperti beberapa jenis beasiswa lainnya, tetapi dengan syarat IPK harus lebih besar atau sama dengan 3,25 keatas. Kalau IPK di bawah dari standar, maka kontrak akan di putuskan secara sepihak. Nilai dari beasiswa ini pun tergolong besar di bandingkan beasiswa yang lainnya.

Bayangkan jika saya harus kehilangan kesempatan tersebut hanya karena nilai saya tidak sesuai standar atau persyaratan. Betapa apes atau bodohnya saya jika kehilangan beasiswa tersebut, sementara banyak orang yang berharap bisa memiliki beasiswa tersebut.

Tapi, syukur-nya, persyaratan tersebut tidak berlaku untuk tahun pertama kuliah, alias untuk tahun pertama, IPK boleh di bawah standar, akan tetapi memasuki tahun kedua atau semester 3, IPK harus sesuai standar persyaratan. Bayangkan, IPK, bukan IP. Saya yakin pembaca tahu kan bedanya apa. Jika di persyaratan itu berbicara IP, maka saya mungkin tidak setakut itu, akan tetapi persyaratannya adalah IPK, komulatif!! Dengan IP semester pertama 3.00, maka untuk semester selanjutnya IP saya harus 3.5 untuk dapat IPK 3.25. Dapatkah kamu bayangkan??? Jujur, saat itu saya merasa tidak mampu bisa meraih IP tersebut, ditambah lagi dengan persaingan yang ketat pun saya sudah tahu kemampuan saya dibandingkan teman-teman sekelas saya. Saya rasa tidak mungkin. Saat itu saya down, saya kurang percaya diri. Tidak mungkin saya bisa mendapatkan IP 3.5 semester selanjutnya, jika dilihat dari apa yang saya peroleh semester ini.

Tapi, entah saat itu kekuatan dari mana, ada sedikit keyakinan bahwa saya tidak boleh menyerah. Dengan usaha dan doa, saya yakin kalau saya pasti bisa. Bukan hal mungkin untuk memperbaiki, karena saya masih punya kesempatan satu semester lagi.

Mulailah saya mengubah pola hidup saya. Saya mengatur jadwal belajar, pun jadwal sehari-hari. Ada banyak perubahan yang saya lakukan. Berikut saya rincikan:

  1. Saya harus duduk di depan saat perkuliahan, mendengar, kemudian mencatat.
  2. Materi yang akan saya kuliahi besok, harus saya pelajari dulu malam harinya agar saya ada persiapan, dan saya membuat daftar pertanyaan yang tidak saya mengerti tentang materi tersebut agar bisa saya tanyakan kepada dosen saya.
  3. Catatan selama perkuliahan, harus saya salin sepulang kuliah, sembari menambahkan penjelasan menurut versi saya sendiri yang saya pahami dan saya tambahkan menurut versi buku yang saya baca.
  4. Jadwal kegiatan harian saya atur, dimana pukul 08.00-14.00 (kegiatan perkuliahan), 14.00-16.00 (praktikum/buat laporan/istirahat), 16.00-18.00 (menyalin catatan perkuliahan hari ini), 18.00-20.00 (shalat dan mengaji (wajib)), 20.00-22.00 (memperlajari materi perkuliahan esok hari). 

Dan berputarlah saya di jadwal ini. Setiap hari, selama satu semester, dan entah kekuatan dari mana (mungkin karena takut kehilangan beasiswa) membuat saya istiqomah tidak melanggar jadwal yang saya buat sendiri. Tidak lupa pula selalu saya barengi dengan doa dan ibadah yang lebih intens lagi dari sebelumnya.

Hasilnya......

Percaya atau tidak, Allah Maha Besar, IP saya 3.53 saat semester 2. Dan yang paling ajaib, nilai kimia dasar saya C pada semester pertama, hanya satu atau dua orang yang mendapatkan nilai A, karena dosen mata kuliah saya pada semester ini menilai dengan sangat objektif. Jujur. Tidak melebihkan maupun mengurangi. Dan alhasil, pada semester 2, saya mendapatkan nilai A, dengan dosen yang sama pula dengan semester pertama. Dengan hanya segelintir orang juga yang mendapatkan nilai sempurna. Dan nilai ini murni, tidak ada kerjasama.

Saya begitu bersyukur saat itu, apa yang saya doakan, apa yang saya usahakan benar-benar terwujud. Akhirnya saya bisa mempertahankan beasiswa saya dengan IPK 3.26.

.....................................


Tapi perjuangan ini belum berakhir

Semester berikut-berikutnya pun saya lewati dengan berjuang, cuma untuk semester selanjutnya, saya tidak se-rajin semester kedua, tapi tidak semalas semester pertama. Dan alhamdulillah IP saya tidak turun, pun IPK. Dan beasiswa pun tetap saya pertahankan.

Beranjaklah saya ke semester akhir. Saat semester 6 dan 7, IPK saya pas, 3.50. Berjuanglah saya kembali, bahwa saya berada pada ambang batas, atau tepi jurang, dimana saya ingin dan punya harapan untuk lulus dengan predikat cumclaude. Akan tetapi IPK segitu belum bisa mencukupi untuk bisa mendapat predikat cumclaude, karena syarat cumclaude adalah IPK harus lebih besar dari 3.50 (bukan lebih besar sama dengan 3.50), yang berarti saya bisa cumclaude jika IPK saya 3.51. Saya membutuhkan 0.01 point lagi untuk bisa mendapatkan predikat cumcalude.

Berjuanglah saya kembali, dengan usaha dan doa. Ada sedikit ke-optimis-an sebesar 60%, akan tetapi 40%-nya adalah pesimis. Tidak gampang bisa mendapatkan nilai A pada skripsi. Dan kembalilah saya risau lagi "bisa gak ya? insyaallah bisa, tapi kayaknya susah juga".

Dan ternyata, karena rejeki emang gak kemana, berkat usaha dan doa, akhrinya saya bisa lulus dengan predikat cumclaude dengan IPK 3.52. Sedikit memang, tidak seperti yang lainnya yang lulus dengan IPK 3.8-an. Jadi karena IPK yang saya peroleh pas-pasan untuk memenuhi syarat predikat cumclaude, sampai saat ini saya percaya, bahwa, saya hanya beruntung. Allah Maha Baik, memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan predikat sesuai yang saya inginkan, sekalipun dengan nilai yang tidak seberapa, hanya memenuhi syarat saja. Orang yang tahu saya cumclaude, ditambah dengan jurusan yang bisa dibilang sulit, mungkin berpikir saya '.....', tapi jujur, saya tidak pintar. Pun hebat. Saya hanya beruntung. Murni faktor beruntung, hasil dari usaha dan doa. Orang pintar, lulus dengan IPK 3.6~3.9~4. Sedangkan saya hanya 3.52. Nyaris saja tidak mendapatkan predikat cumclaude.

Dan predikat ini sesuai dengan apa yang saya impikan. Yang saya impikan hanya predikat cumclaude, entah itu hanya dengan point 3.51. Entah itu cumclaude karena beruntung, atau cumclaude karena memang pintar. Yang penting cumclaude.

Kenapa?

Karena, saya ingin jadikan ini hadiah untuk kedua orang tua saya. Mungkin untuk sebagian mahasiswa tidak mengharapkan untuk bisa mendapatkan predikat cumclaude, tidak dengan saya. Saya yakin dan percaya, orang tua saya akan bangga jika saya wisuda, dan bangganya bernilai plus jika saya bisa menyelesaikan dengan predikat cumclaude. Setidaknya ini menunjukkan bahwa saya kuliah, jauh, merantau ke daerah orang, punya hasil yang bukan sekedar baik, tapi memuaskan, bahkan istimewa. Percaya deh, sekarang tanya orang tua masing-masing, bangga gak kalau anaknya cumclaude? You have your own answer.







NB : Saya tidak menulis postingan ini untuk membanggakan diri atau sejenisnya, i swear, ini murni cerita hidup saya yang ingin saya bagikan tentang bagaimana saya menyelesaikan kuliah dengan perjuangan untuk mendapat predikat cumclaude, tanpa ada embel-embel sombong dan sebagainya. Please think positively. Entah kenapa saya hanya ingin menulis. Syukur-syukur jika ada yang termotivasi, Untuk yang masih kuliah, semangat terus ya!!!



Regards,
Ika

No comments:

Post a Comment