Monday, December 14, 2015

POLIGAMI

Lelaki, entah yang bergama (alim) maupun tidak, banyak yang memanfaatkan kebolehan poligami sebagai bentuk pembenaran atas nafsu mereka terhadap wanita lain. 

Saya mengerti naluri lelaki yang memang tingkat keinginan untuk memiliki lebih dari satu perempuan itu tinggi, pun banyak yang mengatakan "kalau gak ada keinginan untuk nambah istri, gak normal". Saya sebagai wanita yang tidak tahu menahu tentang naluri lelaki cuma bisa mengiyakan. Saya juga tidak bisa menyalahkan tentang perijinan poligami, karena memang sudah tertulis di Al-Quran.

"Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3)."

Ayat inilah yang kemudian dijadikan pembenaran atas kebolehan poligami. Diagung-agungkan atas kehalalannya. Halal memang, tapi kebanyakan hanya mengambil sepotong bagian "Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat" ayat saja, tanpa melihat syarat-syarat yang lain.

Seandainya lelaki berpikir, kemudian mendalami Al-Quran, syarat-syarat untuk poligami itu tidak mudah. Yakin bisa berlaku adil dengan 2 istri? Kalau istri satu saja masih ditelantarkan, di dzolimi, disakiti hatinya?! Pernah berpikir tanggung jawab poligami sebesar apa dan balasannya apa jika tidak bisa berlaku adil??

Faktanya, lelaki yang berpoligami, kebanyakan lelaki yang isi Al-Quran saja mereka tidak paham. Well, bukan menyudutkan salah satu pihak, tapi faktanya memang begitu. Walaupun di lain pihak ada beberapa yang memang terlihat seperti mengerti agama tetapi tetap berpoligami.

"Lantas, karena tanggung jawab poligami berat, kita lelaki lebih baik tidak poligami? Padahal lelaki sudah tercipta dengan naluri untuk memiliki lebih dari satu istri. Lebih baik mana selingkuh di belakang daripada poligami?"

Ya, faktanya lelaki punya naluri untuk memiliki lebih dari satu wanita, kalau tidak ada naluri tersebut, berarti tidak normal, begitu katanya. Oke, saya iyakan, sekalipun saya sendiri sebagai wanita tidak tahu menahu tentang naluri tersebut memang ada secara lahiriah atau tidak. Tapi sadar tidak?! Naluri tersebut ada karena nafsu, bukan?!

Lantas kenapa nafsu itu tidak di jaga? Bukankah kita sudah diberitahu trik untuk menjaga nafsu seperti menjaga pandangan, berpuasa, dan sebagainya. Kenapa trik itu tidak di pakai? Kenapa nafsu untuk memiliki dua istri dibiarkan liar kesana kemari?!

Istri mungkin tidak memiliki sesuatu seperti wanita lain, tapi apakah itu tidak bisa dikomunikasikan untuk diperbaiki? Kalau kurang cantik, seksi, langsing, kenapa tidak dikomunikasikan kemudian difasilitasi agar tujuan keinginan tercapai? Bukan dengan cara mencari barang baru. Perilaku istri pun bergantung bagaimana pengarahan suami. Jika suami baik mendidik, berkomunikasi, saya rasa kekurangan-kekurangan itu bisa ditutupi. 

Selain itu kemana rasa syukur? seburuk-buruknya paras istri, entah menggendut, keriput, ubanan, cobalah untuk diingat bagaimana kamu begitu menginginkan dia hingga bersusah payah memberanikan diri ke ayahnya dulu untuk meminta dinikahkan? 

Kenapa tidak berpikir sejauh itu? 

Dia yang sudah melahirkan anak-anakmu, yang mendidik anak-anakmu, apa tidak ada bentuk rasa terima kasih? Terima kasih bukan soal nafkah saja, tapi hati.

Tidakkah ada keinginan untuk menyejukkan hati istri dengan selalu setia tanpa melirik yang lain? Entahlah. Mungkin karena dikuasai nafsu yang mengatasnamakan naluri lelaki, alhasil otak pun tidak lagi berguna.

"Well, karena tidak ingin menyakiti hati istri, tidak usah poligami, tapi selingkuh di belakang, tanpa ketahuan istri"

Yakin gak bakalan ketahuan?

Allah itu Maha Adil, sebusuk-busuknya bangkai disimpan, tetap saja baunya akan keluar. Sebaik apapun disembunyikan, 1, 2, atau 3 bulan tertutup rapat, lantas bulan-bulan berikutnya yakin nggak ketahuan?

FYI, wanita itu diberi kemampuan lebih daripada laki-laki, termasuk keingintahuan wanita lebih tinggi daripada laki-laki. Makanya di sekolah, kebanyakan yang selalu juara kelas wanita bukan?! Ya, karena itu. Wanita itu pintar. Pintar juga mencari tahu! Jadi serapat apapun disembunyikan, pasti akan ketahuan. Saya bisa jamin itu.

"Tapi kalau wanita mengijinkan suaminya berpoligami, jaminannya surga"

Untuk bagian pembenaran yang ini, tergantung pada bagaimana tingkat kesabaran wanita tersebut. Juga bagaimana tingkat keadilan suami dalam mengayomi istri. Syukur-syukur kalau berlaku adil, kalau tidak? Mau masuk neraka? Terus kalau istri 2, anak tambah banyak, yakin mampu biayai? 


Entahlah, tulisan ini saya buat atas dasar keterbatasan pandangan saya terhadap poligami. Saya hanya anak kecil berumur 21 tahun dan belum menikah, yang kemudian corat coret nggak jelas di blog saya tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang poligami. Saya tidak bermaksud mengajak kalian untuk memiliki pola pikir yang sama, tidak pula men-justifikasi pihak lain. Ini hanya hasil tulisan waktu luang saya.




Salam,
Ika Kurnia

Friday, December 4, 2015

A Brand New World

Udah lama gak ngisi blog lagi sejak struggle sama penelitian yang, uh, so hard. Now, banyak banget perubahan dalam hidup gue. Pun gaya dalam tulis menulis gue coba untuk lebih universal. Kenapa? i re-read my old post, and i thought it was like.... i dont know how to describe it exactly but saya is too formal haha. But u know, in Lombok and Sumbawa especially, we dont use aku or gue untuk menunjukkan 'aku', commonly use 'saya'. Well, sebenarnya itu gak penting banget, mau aku, gue, saya, beta, or anything else, maknanya sama aja.

By the way. Sekarang hidup gue udah banyak berubah. You know, a few month ago, gue masih struggle dengan penelitian, masih stuck sama pikiran "gue kapan wisudanya, gue gak mau jadi mahasiswa yang ketinggalan, or masa geng gue wisuda duluan terus gue kesisa sendiri" and etc. Dan pikiran itu sangat sangat menguras tenaga. But now, gue lagi duduk di kursi kantor di tempat gue kerja, stuck di depan PC di jam istirahat, dan ini adalah hari ke 6 gue kerja di salah satu perusahaan contractor and general supply di daerah gue. Sejak gue kerja, yang sebelumnya telah melewati masa pengangguran selama 2 bulan, gue belajar banyak hal. You know, dunia kerja gak segampang dunia kuliah and what i want now is gue mau kuliah lagi!!!!!

Banyak faktor yang nyebabin kenapa kuliah lebih gampang daripada kerja. As a freshgraduate with no work experience, gue kaget dengan perubahan ini, dan tentu perlu adaptasi. Yang dulunya saat kuliah santai, berangkat jam 7.30, pulang jam 11 atau kadang jadwal padat sampai sore karena praktikum, or sekalipun saat research, gue rasa lebih ringan di banding bekerja. kenapa?

Karena di dunia kerja, kita DITUNTUT. You know, di-tuntut. yang dulunya kita bisa hangout tiap sore, bisa makan siang bareng geng-gengan, malam bisa begadang, bisa jalan-jalan, bolos kuliah sekali dua kali gak masalah, but now, dunia kerja, cuma punya libur sabtu dan minggu. Gak bisa sembarang bolos kerja, gabisa hangout, kerja dari jam 7 sampe jam 5 pun istirahat cuma 1 jam, selepas kerja, malamnya langsung istirahat and its a must because if u dont take a rest bisa bikin kerjaan di hari berikutnya berantakan karena gak fit. Belum lagi tuntutan atasan, dan masa-masa menjadi newbie itu yang paling keras. Its ok if u have a work experience, so u're not too shock, but me, baru lulus, gak pernah kerja, kerjanya pun gak straight dengan major saat kuliah, it so exhausted! Melelahkan. But what u can do? Apa gara-gara gue nggak punya pengalaman lantas nyerah gitu aja? or karena gue gak tahan dengan schedule kerja yang padat & tuntutan yang berat? ditambah mesti adaptasi dengan orang baru, wajah baru, watak baru yang effected banget sama attitude gue dalam bersikap. Yang dulunya asik dengan teman-teman, becanda ngalur ngidul, sekarang masih lebih banyak diam, pencitraan and etc, dan yang bikin sulit because i'm not kind of people who easy going with a new people i just met. Gue sulit banget untuk adaptasi. Untuk say hi heboh sana sini caper, ngelucu, talkative menjadi sangat sulit, yang notabenenya sangat mudah sekali kalau bareng geng-gengan dan teman-teman kampus.

But ini masih berjalan sebentar, belum selangkah, pun setengah langkah, masih sangat baru. Gue gak tau sebulan ke depan, setahun ke depan, dua tahun dan seterusnya. Bisa jadi yang sekarang masih berat banget untuk adaptasi, masih belajar watak tiap orang, masih belajar nerima candaan yang menurut gue gak lucu, besok bisa jadi kembali talkative, ramah, becanda sana sini. Yeah, lets see tomorrow.

Actually, kerja sebenarnya bukan target awal gue, its a second choice, because i have a dream, the dream that i cant even forget and still keep it on yang seharusnya gue capai dan gue kejar. But faktanya, setelah gue putuskan untuk berserah diri, akhirnya gue harus kerja. But my dream bakal selalu gue kejar dan harus gue raih, sebisa mungkin! I know Allah is the best planner, how much effort u spend, He will give u equally or more than u have spend! Semoga tetap semangat dan istiqomah dengan target awal, karena keep ur dream on is the hardest things to do, apalagi harus break kejar karir dulu.





Much love,
Ika

NB : i wrote this randomly post at 1 pm, and i post it after a short editing at 7 pm. This show how tight my schedule was ^^