Wednesday, May 9, 2018

Masa Transisi

Akirnya, setelah sekian lama ngidam pengen nulis, hamdalah terlaksana juga. As the title, i want to talk about Masa Transisi. Of course it's about my life.

Kita semua mungkin pernah mengalami yang namanya masa transisi, mungkin juga tidak. Jadi masa transisi yang saya maksud disini adalah masa transisi dari masa remaja menuju dewasa. Tapi tidak semua orang memiliki masa transisi di usia seperti saya saat ini. Ada yang mengalami masa transisi di usia lebih muda, dimana keadaan memaksa mereka untuk berpikir dewasa. Ada pula yang di usia hingga 30 tahun, belum mengalami masa transisi sama sekali.

Kenapa saya menyebutnya masa transisi? 

Ini berawal dari chat message dengan seorang teman lama, he open my eyes. He has been passed 'masa transisi' juga yang ternyata jauh lebih berat dibandingkan apa yang saat ini saya alami.

Masa transisi seperti apa yang saya alami sekarang?

Well, start in 2015 when i just graduated. Setelah pindah kerumah (pulang kampung), saya tahu bahwa hubungan kedua orang tua saya tidak "baik-baik saja". My dad start cheating in 2013 then my mom keep it secret to me since that time karena Mama tidak mau permasalahan ini mengganggu aktivitas belajar saya. Bagi orang lain, perkara rumah tangga like ayah atau ibu selingkuh or other stuff yang buat mereka decided divorce adalah hal biasa. Karena kasus ini tidak jarang ditemui. Seperti saya melihat sahabat saya, Linda, yang dulu saat kuliah harus survive karena broken home, saya melihatnya biasa saja saat itu. Saya kasihan, tapi saya belum tahu bahwa ternyata saat itu dia rapuh banget seperti saya sekarang. 

Perkara inilah yang akhirnya mengubah diri saya, yang dulunya super excited person turn to be more tertutup. Yang dulunya excited over things easily menjadi lebih mati rasa dan sering sedih. Perkara broken home ini pun bukan satu-satunya hal ups and downs yang saya alami di masa transisi ini. 

Saya mulai bekerja di subcont PT NNT akhir 2015, kemudian merasa bosan dengan lingkungan kerja, lelah dengan keadaan dirumah, kemudian saya berambisi untuk catch my other goal untuk kuliah keluar negeri, all i want was go out from this place, yang akhirnya memutuskan saya untuk pindah ke BPOM. At first, i thought that it would be super fun, karena orang-orang yang saya temui pintar dan cerdas dan mereka keren semua, thats what i need. Tapi lagi-lagi, Allah teach me bahwa apa yang kita inginkan dan pikir yang terbaik, belum tentu benar-benar baik. Hingga bulan ketiga bekerja, kondisi dirumah semakin memburuk yang akhirnya membuat Mama memaksa saya untuk pulang dan mencari pekerjaan yang tidak jauh dari rumah. Selama hampir 3 bulan Mama membujuk saya untuk pulang, dan kemudian saya memutuskan untuk pulang, the reason is simple, i just want to make my mom happy dengan mengikuti keinginan beliau, because i know she need me, dan percaya bahwa restu orang tua adalah kunci utama untuk sukses dunia dan akhirat.

Saya pun kembali bekerja di-subcont yang lama, dan tepat 6 bulan setelah saya kembali, saham perusahaan induk PT NNT di jual ke Medco Group (sekarang PT Amman Mineral) dan itu berimbas ke perusahaan saya yang akhirnya berujung ke PHK, tepat di bulan Desember 2017. Allah menguji kembali kesabaran saya, banyak pelajaran yang saya ambil saat itu. Salah satunya yang masih saya ingat sampai saat ini adalah ketika teman kerja saya dulu, merekomendasikan saya bekerja diperusahaannya, tepat saat perusahaannya deal dapat kontrak dengan PT Amman. Saat itulah saya belajar tentang untuk tidak berharap lebih kepada manusia, karena ternyata setelah perusahaannya deal kontrak, i’m not her priority untuk ikut bergabung karena sesuatu dan lain hal. Actually it still hurt until now, and i do still remember. Harapan saya besar sekali saat itu, karena kondisi keluarga saya yang semakin rumit, bertepatan dengan Bapak saya akhirnya menikah siri dengan perempuan lain yang berdampak pada keuangan keluarga, ditambah lagi karena bisnis online saya yang keuntungannya harus dibagi 4 saat itu. I was down, angry, sad, sampai level mengurung diri dan nangis berhari-hari. I was lost at the time. Then finally, i still survive, i can be sad all whole time, but i should move karena tanggungan saya banyak, mulai cicilan rumah hingga bayar wifi. I should get money at the time and i should move.

Syukurnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu support. Sahabat dan teman hidup yang baik. Pada akhirnya, sekarang, i end up mengabdi pada negara dan serius mengurus bisnis saya. Kita tidak menyangka where and how life bring us. Dulu saat kuliah, i was skeptic ke orang-orang yang mengabdi pada negara, i mean like mereka harus kerja banyak dan di bayar sedikit padahal mereka punya chance untuk mencari pekerjaan yang lain, pun tentang usaha online, karena usaha ini menjamur banget di era millenial sekarang, i was never imagine that my online business bisa berkembang dengan baik seperti sekarang. Tapi apa yang membuat saya bertahan dan menjadi sangat bersyukur berada di level sekarang?! Its because everything not only about money. Saya menemukan tempat kerja yang suasananya seperti rumah pun bisa buka usaha yang ternyata fun dan menjanjikan. 

Dulu saya selalu gelisah karena ambisi mengejar dunia, like i should kerja di perusahaan bonafit dengan gaji tinggi, harus berpendidikan tinggi yang lulus dari universitas ternama, padahal belum tentu itu semua mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan serta bisa membuat kita merasa berkecukupan. Allah teach me really well. And now, i feel more stronger karena beratnya masalah yang sudah saya lewati membuat saya ringan menghadapi masalah yang menurut orang lain berat. I'm still excited dan penasaran, pelajaran apalagi yang Allah akan berikan. Semoga bisa saya lalui dengan baik dan bisa jadi penambah berat timbangan pahala di akhirat kelak. Sekian cerita Masa Transisi dari saya.


Lets cry, angry, and sad, but make sure after that we should move.


Ika
09 Mei 2018 (8 hari lagi akan bertambah usia)





Sunday, December 18, 2016

Midnight Talk

Sekarang saya sadar kenapa Indonesia belum maju, karena emang mental kita belum siap buat jadi negara maju. Sederhananya saja seperti kondisi saya saat ini, saya dari sejak SMP bermimpi supaya bisa kuliah keluar negeri, and now, sadly, it still be a dream. Kadang saya mikir kok bisa ya saya gak bisa wujud-in mimpi saya? Padahal kan banyak orang sekitar saya yang sudah berhasil mewujudkan mimpi mereka untuk kuliah di luar negeri, lagian saya yakin kok saya mampu menyesuaikan diri dengan cara belajar di sana, saya punya tekad kuat kok, saya yakin saya bisa, otak saya juga gak jauh beda sama mereka. But, until now, di balik tekad dan keyakinan saya yang tinggi serta kepedean saya yang over, sampai saat ini belum ada gerakan yang bikin saya bener-bener emang mau wujudin mimpi saya. I still stuck in my comfort zone. Saya emang lagi improve skill English saya, tapi itu belum seberapa. Belajar pun masih angen-angenan. Belum lagi kadang semangat yang suka naik turun, kadang nggak konsisten juga, yeah, its tough guys. Terus apa hubungannya dengan Indonesia yang nggak bisa maju?? Well. Contoh di atas itu hanya sederhana, tapi kalau di lihat lebih dalam lagi, emang orang-orang tipikal seperti saya ini nggak sedikit. Intinya, kita nggak punya mental untuk kerja keras wujudin apa yang kita mau. Kita terlalu malas. Kita terlalu takut untuk ambil resiko. Kita selalu ingin yang aman-aman saja. Itulah kita, orang Indonesia. Kalau anak-anak mudanya kayak saya, mentalnya kayak saya, kapan Indonesia bisa maju?!

Belum lagi kebanyakan anak muda sekarang, instead of kejar mimpi, kerja keras, berusaha lakukan yang terbaik buat orang lain, malah asyik-asyikan nge-mall, ketawa ketiwi gak jelas di snapgram, nongkrong, foto ala-ala, and so many things yang useless banget. Jangankan mau berguna untuk orang lain, buat diri sendiri aja nggak ada gunanya. Budaya hidup hedonis masih dipertahankan, pamer sana pamer sini, sedangkan budaya hidup sederhana malah disinisin dan dikatain. Gimana Indonesia mau maju?

Banyak dari kita, generasi sekarang, instead of beli buku buat nambah pengetahuan or browsing yang bermanfaat, kita lebih banyak habisin duit dan waktu buat 'what kind of style that hip nowadays? sekarang trendnya gaya foto kayak gimana ya? sekarang hitsnya baju model apa ya?' -_- dan juga kita masih kepo tidak pada tempatnya. Lucunya lagi orang kita senang banget apa-apa nyalahin orang, senang banget komplain sana komplain sini. Contoh kecil saja ya, saya tinggal di daerah tambang, di mana perusahaan yang mengolah pertambangan tersebut merupakan salah satu perusahaan besar di Indonesia. Hampir seluruh aspek bergantung pada perusahaan pertambangan ini, salah satunya lapangan pekerjaan. Terus lucunya dimana? Wait. Baru-baru ini i read post in facebook that anak muda disini menyuarakan tentang bagaimana perusahaan tambang ini tidak bisa menyelesaikan masalah pengangguran, niat buat orasi lah, dan banyak gerakan lain. Lucu aja gitu. Gini loh kakak-kakak adek-adek, masalah pengangguran nggak bakal bisa diselesaikan oleh pemerintah. Kita nggak bisa komplain ke pemerintah karena kita jadi pengangguran. Coba deh bayangin, tiap tahun berapa banyak anak muda yang baru lulus dari sekolahnya, selalu ada kan? Maka mustahil kalau masalah pengangguran itu bisa diselesaikan pemerintah, wong tiap tahun sekolah-sekolah dan universitas mencetak generasi muda yang sudah siap ilmunya. Nggak ada cerita tuh dalam setahun sekolah maupun universitas stop kelulusan supaya nggak mencetak generasi yang bakal jadi pengangguran -_- konyol guys. So why we still complaining masalah pengangguran? Sedangkan setiap tahun generasi muda yang siap dengan ilmunya tercetak!! *geleng-geleng*. Ini juga nih yang bikin Indonesia nggak maju. Kita nggak mandiri. Suka banget nyalahin orang atas penderitaan yang terjadi ke kita. Kerja loh nggak cuma di tambang, nggak cuma di kantor, nggak cuma jadi karyawan. Banyak hal yang bisa dilakuin selain mengeluh minta dipekerjakan. Rasulullah loh udah ngajarin bahwa 90% rejeki datang dari perniagaan. Lihat deh kokoh kokoh dan cici cici yang jualan, mereka kaya-kaya kan?! Padahal mereka cuma jualan, nggak kerja kantoran, nggak jadi karyawan, itu semua karena mereka mampu lihat peluang, mereka kreatif, mereka kerja keras, nggak bergantung sama orang lain. Banyak hal yang bisa kita lakukan selain nyalahin pemerintah karena nggak menyelesaikan masalah pengangguran.

So guys, mari deh kita berbenah diri. Belajar lebih banyak lagi, bergerak lebih aktif lagi. Buang jauh jauh deh gaya hidup hedonis. Coba lihat orang kayak Mark Zuckerberg, yang kekayaannya segede jaban, dia tetap aja hidup sederhana. Apalagi kita yang hartanya nggak seberapa, malu guys. Pergunakan harta sebaik mungkin, jangan jadi orang yang konsumtif. Koleksi-koleksi baju, sepatu, pernaik pernik itu benar-benar nggak ada gunanya. Kita kan bukan artis yang jual penampilan, so buat apa koleksi ini itu, bergaya se-kece mungkin, ngomong setinggi mungkin, padahal kantong kosong. Kita hidup hedon malah bikin kantong kita kosong dan kantong orang kaya makin tebal. Kita bergaya ala-ala artis tapi nggak ada tuh yang ngajakin buat jadi bintang iklan, yang ada malah tambah susah. Kalau sudah susah, nyalahin orang lain sampe nyalahin pemerintah. Kan lucu. Kemudian berhenti deh mengeluh sama pemerintah atau lembaga tertentu, yuk bergerak nyari peluang dan kesempatan. Supaya hidup kita berguna. Nggak manja dan bergantung sama orang tua. Plus, singkirin jauh-jauh deh itu gengsi. Jangan dipelihara. Jangan maunya cuma kerja di tempat yang prestige aja, coba dari hal-hal kecil. Karena dari hal kecil, jika kita sungguh-sungguh, akan bisa menjadi besar.









Friday, March 11, 2016

How I Passed My Bachelor Degree With Struggle

Hai :))

Berdasarkan judul yang saya tulis, saya akan menceritakan perjuangan saya semasa kuliah tentang bagaimana saya bisa lulus dengan predikat cumclaude.

Untuk kebanyakan orang, lulus dengan IPK tinggi atau cumclaude adalah impian. Begitu pula dengan saya. Saat semester pertama saya menjalani masa perkuliahan, saya ingat pernah menuliskan mimpi saya untuk bisa menyelesaikan kuliah dengan predikat cumclaude. Dengan 'anteng'nya saya menuliskan mimpi tersebut di notebook saya, dan dengan keyakinan 'saya pasti bisa'.

Kenapa saya yakin? sejujurnya, keyakinan ini tidak berdasar. Saya menjalani kuliah semester pertama dengan sangat santai. Saya pikir, akan mudah mendapatkan nilai, akan mudah dosen mendongkrak nilai, akan sangat gampang mendapatkan nilai A, dan sebagainya. Saya beranggapan, semua tidak akan sulit. Intensitas hangout bareng teman-teman kuliah pun lebih tinggi daripada intensitas belajar. Laporan praktikum pun saya buat dengan motto 'yang penting jadi', peduli buset isinya bakal saya mengerti atau tidak. Dan berjalanlah semester satu dengan penuh keceriaan, tidak ada beban karena percaya akan mendapatkan IP yang tinggi. Tidak ada rasa persaingan atau takut sedikit pun, karena keyakinan dan kepercayaan diri saya yang tinggi saat itu.

Sampailah di akhir semester ketika nilai kuliah satu persatu keluar......

Apa yang terjadi?

Yah. Nilai saya sangat tidak memuaskan. Sangat jauh dari ekspektasi. Sangat jauh dari perkiraan saya. Sangat jauuuuhhh......... Jujur, saya tidak menyangka akan mendapatkan IP sebegitu rendah menurut versi saya saat itu, bukan songong ya karena saya tahu lebih banyak juga yang mendapatkan IP di bawah nilai tersebut, namun karena perbandingan antara ekspektasi dan kenyataan yang sangat jauh berbeda sehingga saya sangat down. Saya mendapatkan IP 3.00, pas, tidak lebih dan kurang. IP pertama saya, yang pada awal semester saya pikir bisa mendapatkan IP 3,5 keatas. Jeblok. Jauh dari perkiraan.

Saat saya mengetahui IP pertama saya, hal pertama yang saya pikir adalah apakah dengan IP segini saya bisa melanjutkan beasiswa saya?! Bagaimana jadinya kalau saya tidak bisa melanjutkan beasiswa saya?! (IP jeblok kok mikirnya keselamatan duit beasiswa ya hahaha, tapi bener, ini fakta)

Fyi, saya mendapatkan salah satu beasiswa dari perusahaan swasta yang ada di daerah saya, dimana beasiswa ini akan mengontrak kita selama 5 tahun masa perkuliahan, tanpa perlu mendaftar ulang dan ikut seleksi beasiswa setiap tahun ajaran baru seperti beberapa jenis beasiswa lainnya, tetapi dengan syarat IPK harus lebih besar atau sama dengan 3,25 keatas. Kalau IPK di bawah dari standar, maka kontrak akan di putuskan secara sepihak. Nilai dari beasiswa ini pun tergolong besar di bandingkan beasiswa yang lainnya.

Bayangkan jika saya harus kehilangan kesempatan tersebut hanya karena nilai saya tidak sesuai standar atau persyaratan. Betapa apes atau bodohnya saya jika kehilangan beasiswa tersebut, sementara banyak orang yang berharap bisa memiliki beasiswa tersebut.

Tapi, syukur-nya, persyaratan tersebut tidak berlaku untuk tahun pertama kuliah, alias untuk tahun pertama, IPK boleh di bawah standar, akan tetapi memasuki tahun kedua atau semester 3, IPK harus sesuai standar persyaratan. Bayangkan, IPK, bukan IP. Saya yakin pembaca tahu kan bedanya apa. Jika di persyaratan itu berbicara IP, maka saya mungkin tidak setakut itu, akan tetapi persyaratannya adalah IPK, komulatif!! Dengan IP semester pertama 3.00, maka untuk semester selanjutnya IP saya harus 3.5 untuk dapat IPK 3.25. Dapatkah kamu bayangkan??? Jujur, saat itu saya merasa tidak mampu bisa meraih IP tersebut, ditambah lagi dengan persaingan yang ketat pun saya sudah tahu kemampuan saya dibandingkan teman-teman sekelas saya. Saya rasa tidak mungkin. Saat itu saya down, saya kurang percaya diri. Tidak mungkin saya bisa mendapatkan IP 3.5 semester selanjutnya, jika dilihat dari apa yang saya peroleh semester ini.

Tapi, entah saat itu kekuatan dari mana, ada sedikit keyakinan bahwa saya tidak boleh menyerah. Dengan usaha dan doa, saya yakin kalau saya pasti bisa. Bukan hal mungkin untuk memperbaiki, karena saya masih punya kesempatan satu semester lagi.

Mulailah saya mengubah pola hidup saya. Saya mengatur jadwal belajar, pun jadwal sehari-hari. Ada banyak perubahan yang saya lakukan. Berikut saya rincikan:

  1. Saya harus duduk di depan saat perkuliahan, mendengar, kemudian mencatat.
  2. Materi yang akan saya kuliahi besok, harus saya pelajari dulu malam harinya agar saya ada persiapan, dan saya membuat daftar pertanyaan yang tidak saya mengerti tentang materi tersebut agar bisa saya tanyakan kepada dosen saya.
  3. Catatan selama perkuliahan, harus saya salin sepulang kuliah, sembari menambahkan penjelasan menurut versi saya sendiri yang saya pahami dan saya tambahkan menurut versi buku yang saya baca.
  4. Jadwal kegiatan harian saya atur, dimana pukul 08.00-14.00 (kegiatan perkuliahan), 14.00-16.00 (praktikum/buat laporan/istirahat), 16.00-18.00 (menyalin catatan perkuliahan hari ini), 18.00-20.00 (shalat dan mengaji (wajib)), 20.00-22.00 (memperlajari materi perkuliahan esok hari). 

Dan berputarlah saya di jadwal ini. Setiap hari, selama satu semester, dan entah kekuatan dari mana (mungkin karena takut kehilangan beasiswa) membuat saya istiqomah tidak melanggar jadwal yang saya buat sendiri. Tidak lupa pula selalu saya barengi dengan doa dan ibadah yang lebih intens lagi dari sebelumnya.

Hasilnya......

Percaya atau tidak, Allah Maha Besar, IP saya 3.53 saat semester 2. Dan yang paling ajaib, nilai kimia dasar saya C pada semester pertama, hanya satu atau dua orang yang mendapatkan nilai A, karena dosen mata kuliah saya pada semester ini menilai dengan sangat objektif. Jujur. Tidak melebihkan maupun mengurangi. Dan alhasil, pada semester 2, saya mendapatkan nilai A, dengan dosen yang sama pula dengan semester pertama. Dengan hanya segelintir orang juga yang mendapatkan nilai sempurna. Dan nilai ini murni, tidak ada kerjasama.

Saya begitu bersyukur saat itu, apa yang saya doakan, apa yang saya usahakan benar-benar terwujud. Akhirnya saya bisa mempertahankan beasiswa saya dengan IPK 3.26.

.....................................


Tapi perjuangan ini belum berakhir

Semester berikut-berikutnya pun saya lewati dengan berjuang, cuma untuk semester selanjutnya, saya tidak se-rajin semester kedua, tapi tidak semalas semester pertama. Dan alhamdulillah IP saya tidak turun, pun IPK. Dan beasiswa pun tetap saya pertahankan.

Beranjaklah saya ke semester akhir. Saat semester 6 dan 7, IPK saya pas, 3.50. Berjuanglah saya kembali, bahwa saya berada pada ambang batas, atau tepi jurang, dimana saya ingin dan punya harapan untuk lulus dengan predikat cumclaude. Akan tetapi IPK segitu belum bisa mencukupi untuk bisa mendapat predikat cumclaude, karena syarat cumclaude adalah IPK harus lebih besar dari 3.50 (bukan lebih besar sama dengan 3.50), yang berarti saya bisa cumclaude jika IPK saya 3.51. Saya membutuhkan 0.01 point lagi untuk bisa mendapatkan predikat cumcalude.

Berjuanglah saya kembali, dengan usaha dan doa. Ada sedikit ke-optimis-an sebesar 60%, akan tetapi 40%-nya adalah pesimis. Tidak gampang bisa mendapatkan nilai A pada skripsi. Dan kembalilah saya risau lagi "bisa gak ya? insyaallah bisa, tapi kayaknya susah juga".

Dan ternyata, karena rejeki emang gak kemana, berkat usaha dan doa, akhrinya saya bisa lulus dengan predikat cumclaude dengan IPK 3.52. Sedikit memang, tidak seperti yang lainnya yang lulus dengan IPK 3.8-an. Jadi karena IPK yang saya peroleh pas-pasan untuk memenuhi syarat predikat cumclaude, sampai saat ini saya percaya, bahwa, saya hanya beruntung. Allah Maha Baik, memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan predikat sesuai yang saya inginkan, sekalipun dengan nilai yang tidak seberapa, hanya memenuhi syarat saja. Orang yang tahu saya cumclaude, ditambah dengan jurusan yang bisa dibilang sulit, mungkin berpikir saya '.....', tapi jujur, saya tidak pintar. Pun hebat. Saya hanya beruntung. Murni faktor beruntung, hasil dari usaha dan doa. Orang pintar, lulus dengan IPK 3.6~3.9~4. Sedangkan saya hanya 3.52. Nyaris saja tidak mendapatkan predikat cumclaude.

Dan predikat ini sesuai dengan apa yang saya impikan. Yang saya impikan hanya predikat cumclaude, entah itu hanya dengan point 3.51. Entah itu cumclaude karena beruntung, atau cumclaude karena memang pintar. Yang penting cumclaude.

Kenapa?

Karena, saya ingin jadikan ini hadiah untuk kedua orang tua saya. Mungkin untuk sebagian mahasiswa tidak mengharapkan untuk bisa mendapatkan predikat cumclaude, tidak dengan saya. Saya yakin dan percaya, orang tua saya akan bangga jika saya wisuda, dan bangganya bernilai plus jika saya bisa menyelesaikan dengan predikat cumclaude. Setidaknya ini menunjukkan bahwa saya kuliah, jauh, merantau ke daerah orang, punya hasil yang bukan sekedar baik, tapi memuaskan, bahkan istimewa. Percaya deh, sekarang tanya orang tua masing-masing, bangga gak kalau anaknya cumclaude? You have your own answer.







NB : Saya tidak menulis postingan ini untuk membanggakan diri atau sejenisnya, i swear, ini murni cerita hidup saya yang ingin saya bagikan tentang bagaimana saya menyelesaikan kuliah dengan perjuangan untuk mendapat predikat cumclaude, tanpa ada embel-embel sombong dan sebagainya. Please think positively. Entah kenapa saya hanya ingin menulis. Syukur-syukur jika ada yang termotivasi, Untuk yang masih kuliah, semangat terus ya!!!



Regards,
Ika

Sunday, February 28, 2016

I Miss My Old Friend

Guess, what i do right now?!

Yeah, duduk manis di kamar menikmati detik terakhir weekend yang sangat berharga. Penat di depan komputer selama 5 hari dengan pekerjaan yang segede jaban, pun tekanan mental sana sini. Dan weekend saya isi dengan berkutat dengan komputer lagi hahaha. FLAT.

Sebenarnya banyak hal yang ingin saya tulis, terutama saat saya merasa its my best moment or worst moment atau saat pikiran saya sedang kacau, dan bahkan kadang-kadang ketika saya selesai baca buku. Yah, pikiran nomaden, nggak berdiam di satu tempat, berkelana kesana kemari, hingga saat ada kesempatan untuk menulis, bahan tulisan pun sirna entah kemana.

Saya ingat dulu saat kelas 2 SMP, saya sudah bercita-cita untuk study abroad. Pun ketika SMA, dan berlanjut hingga kuliah, dan sampai detik ini. Dan sayangnya, it's still be a dream :'( mungkin Allah belum ngasi ijin, or maybe ada jalan lain untuk bisa keluar negeri tanpa harus study abroad. Dan terdamparlah saya di dunia perkantoran yang sangat jauh dari major study saya.

Cerita sedikit tentang dunia kerja, percaya deh, nggak senikmat saat kuliah. Dan hal yang paling menonjol adalah, kamu tidak akan menemukan teman atau sahabat yang benar-benar 'teman' seperti saat kuliah maupun sekolah. That is why i write this post. Yeah, i miss my old friend. Apa yang teman-teman dan sahabat saya punya dan apa yang saya rasakan saat bersama mereka jauh berbeda dengan yang saya rasakan sekarang.

Saya punya sahabat saat kuliah, kami beranggotakan 4 orang, semuanya wanita. Kami selalu kerja tim, sampai ujian pun kerja tim (jangan di tiru ya!). Saat ada yang jatuh, kami support dengan tidak sepenuhnya mendukung tapi mengingatkan mana yang baik. Dan kami tidak pernah menjelekkan satu sama lain di belakang. Karena kami menjelekkan langsung di depan. Sure, dan itu sangat baik. Coba bayangkan, kamu buruk dan kamu tidak melihat keburukan kamu, kemudian orang lain mencibir dengan cara ngomong di belakang menjelek-jelekkan bahkan memberi solusi, tapi di belakang, emang guna?? Selama yang di cibir gak tau dia salah dan orang lain tersebut tidak memberi tahu kesalahan dan memberi solusi secara langsung, jelas perubahan gak bakal terjadi. That is what i feel now.

Saat ini partner kerja saya mungkin banyak yang omongin kejelekan saya di belakang, dan jadilah saya yang tidak berubah dan tetap salah di mata mereka yang kemudian dijadikan bahan gosip kembali. Well, ini di luar pengetahuan saya, saya hanya memperkirakan. Kenapa saya memperkirakan? Karena that what they do to another person, mereka menceritakan keburukan orang lain kepada saya. Kepada saya! Kita semua tahu, when someone bicarain orang lain di belakang, that what they will do to u dengan menceritakan keburukan kamu ke orang lain. Huft. Kadang saya selalu ingat sahabat saat saya kuliah, ternyata yang benar-benar sahabat seperti mereka tidak ada. Atau mungkin saya belum menemukan pengganti :') Belum lagi, sialnya, kalau dapat partner kerja yang kepo kemudian melanggar batas privacy. Its the worst.

Kemudian selama saya kerja, ketika ada kesempatan untuk berkumpul dan bicara, apa yang saya dapatkan adalah rekam jejak keburukan orang lain. Ya, u know bahwa akan ada banyak pembicaraan tentang keburukan orang lain bahkan sampai ke hal-hal yang seharusnya tidak layak di bahas bersama karena itu privacy dan bisa jadi aib (u know what i mean).

Untuk cari sahabat yang benar-benar tulus, saya rasa its impossible to find out karena dunia kerja adalah dunia cari muka. Ketika kamu banyak muka di depan atasan, kamu akan ngehits kemudian di sukai padahal kinerja buruk dan well kamu dengan mudahnya akan dapat sponsor. Tapi hukum ini mungkin tidak berlaku di semua perusahaan swasta atau negeri.

Berbeda sekali saat saya kuliah, ketika berkumpul, sometime memang membicarakan keburukan orang lain, tapi tidak jarang pula pengetahuan saya bertambah. Mulai dari teknologi yang terbaru saat ini, bahkan sampai berita terkini yang lagi hits, kita bahas berdasarkan cara pandang kita masing-masing dan tidak ada keles sama sekali. Banyak hal baru yang kita ketahui, ya walaupun hanya sekedar "drama korea yang hits sekarang apa ya?". But its useful. Nggak ada tuh yang buka aibnya sendiri pun melanggar batas privacy teman yang lain, karena kita semua tau etika dan batas pertemanan sampai dimana. Tidak semuanya harus di bahas.

Tapi, tidak mungkin kan untuk kembali ke masa kuliah dulu. Apa yang saya hadapi sekarang itulah yang harus saya jalani. Emangnya useetv bisa di rewind, kita mah live a life yang nggak punya tombol rewind.

Sebenarnya saya ingin share picture bersama sahabat saya, tetapi, unlucky, handphone saya hilang. Raib tidak berjejak :'(

Doain ya semoga ada pengganti yang lebih baik. Ammiiinnnn.............


Selamat berhari minggu

With love,
Ika


Monday, December 14, 2015

POLIGAMI

Lelaki, entah yang bergama (alim) maupun tidak, banyak yang memanfaatkan kebolehan poligami sebagai bentuk pembenaran atas nafsu mereka terhadap wanita lain. 

Saya mengerti naluri lelaki yang memang tingkat keinginan untuk memiliki lebih dari satu perempuan itu tinggi, pun banyak yang mengatakan "kalau gak ada keinginan untuk nambah istri, gak normal". Saya sebagai wanita yang tidak tahu menahu tentang naluri lelaki cuma bisa mengiyakan. Saya juga tidak bisa menyalahkan tentang perijinan poligami, karena memang sudah tertulis di Al-Quran.

"Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3)."

Ayat inilah yang kemudian dijadikan pembenaran atas kebolehan poligami. Diagung-agungkan atas kehalalannya. Halal memang, tapi kebanyakan hanya mengambil sepotong bagian "Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat" ayat saja, tanpa melihat syarat-syarat yang lain.

Seandainya lelaki berpikir, kemudian mendalami Al-Quran, syarat-syarat untuk poligami itu tidak mudah. Yakin bisa berlaku adil dengan 2 istri? Kalau istri satu saja masih ditelantarkan, di dzolimi, disakiti hatinya?! Pernah berpikir tanggung jawab poligami sebesar apa dan balasannya apa jika tidak bisa berlaku adil??

Faktanya, lelaki yang berpoligami, kebanyakan lelaki yang isi Al-Quran saja mereka tidak paham. Well, bukan menyudutkan salah satu pihak, tapi faktanya memang begitu. Walaupun di lain pihak ada beberapa yang memang terlihat seperti mengerti agama tetapi tetap berpoligami.

"Lantas, karena tanggung jawab poligami berat, kita lelaki lebih baik tidak poligami? Padahal lelaki sudah tercipta dengan naluri untuk memiliki lebih dari satu istri. Lebih baik mana selingkuh di belakang daripada poligami?"

Ya, faktanya lelaki punya naluri untuk memiliki lebih dari satu wanita, kalau tidak ada naluri tersebut, berarti tidak normal, begitu katanya. Oke, saya iyakan, sekalipun saya sendiri sebagai wanita tidak tahu menahu tentang naluri tersebut memang ada secara lahiriah atau tidak. Tapi sadar tidak?! Naluri tersebut ada karena nafsu, bukan?!

Lantas kenapa nafsu itu tidak di jaga? Bukankah kita sudah diberitahu trik untuk menjaga nafsu seperti menjaga pandangan, berpuasa, dan sebagainya. Kenapa trik itu tidak di pakai? Kenapa nafsu untuk memiliki dua istri dibiarkan liar kesana kemari?!

Istri mungkin tidak memiliki sesuatu seperti wanita lain, tapi apakah itu tidak bisa dikomunikasikan untuk diperbaiki? Kalau kurang cantik, seksi, langsing, kenapa tidak dikomunikasikan kemudian difasilitasi agar tujuan keinginan tercapai? Bukan dengan cara mencari barang baru. Perilaku istri pun bergantung bagaimana pengarahan suami. Jika suami baik mendidik, berkomunikasi, saya rasa kekurangan-kekurangan itu bisa ditutupi. 

Selain itu kemana rasa syukur? seburuk-buruknya paras istri, entah menggendut, keriput, ubanan, cobalah untuk diingat bagaimana kamu begitu menginginkan dia hingga bersusah payah memberanikan diri ke ayahnya dulu untuk meminta dinikahkan? 

Kenapa tidak berpikir sejauh itu? 

Dia yang sudah melahirkan anak-anakmu, yang mendidik anak-anakmu, apa tidak ada bentuk rasa terima kasih? Terima kasih bukan soal nafkah saja, tapi hati.

Tidakkah ada keinginan untuk menyejukkan hati istri dengan selalu setia tanpa melirik yang lain? Entahlah. Mungkin karena dikuasai nafsu yang mengatasnamakan naluri lelaki, alhasil otak pun tidak lagi berguna.

"Well, karena tidak ingin menyakiti hati istri, tidak usah poligami, tapi selingkuh di belakang, tanpa ketahuan istri"

Yakin gak bakalan ketahuan?

Allah itu Maha Adil, sebusuk-busuknya bangkai disimpan, tetap saja baunya akan keluar. Sebaik apapun disembunyikan, 1, 2, atau 3 bulan tertutup rapat, lantas bulan-bulan berikutnya yakin nggak ketahuan?

FYI, wanita itu diberi kemampuan lebih daripada laki-laki, termasuk keingintahuan wanita lebih tinggi daripada laki-laki. Makanya di sekolah, kebanyakan yang selalu juara kelas wanita bukan?! Ya, karena itu. Wanita itu pintar. Pintar juga mencari tahu! Jadi serapat apapun disembunyikan, pasti akan ketahuan. Saya bisa jamin itu.

"Tapi kalau wanita mengijinkan suaminya berpoligami, jaminannya surga"

Untuk bagian pembenaran yang ini, tergantung pada bagaimana tingkat kesabaran wanita tersebut. Juga bagaimana tingkat keadilan suami dalam mengayomi istri. Syukur-syukur kalau berlaku adil, kalau tidak? Mau masuk neraka? Terus kalau istri 2, anak tambah banyak, yakin mampu biayai? 


Entahlah, tulisan ini saya buat atas dasar keterbatasan pandangan saya terhadap poligami. Saya hanya anak kecil berumur 21 tahun dan belum menikah, yang kemudian corat coret nggak jelas di blog saya tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang poligami. Saya tidak bermaksud mengajak kalian untuk memiliki pola pikir yang sama, tidak pula men-justifikasi pihak lain. Ini hanya hasil tulisan waktu luang saya.




Salam,
Ika Kurnia

Friday, December 4, 2015

A Brand New World

Udah lama gak ngisi blog lagi sejak struggle sama penelitian yang, uh, so hard. Now, banyak banget perubahan dalam hidup gue. Pun gaya dalam tulis menulis gue coba untuk lebih universal. Kenapa? i re-read my old post, and i thought it was like.... i dont know how to describe it exactly but saya is too formal haha. But u know, in Lombok and Sumbawa especially, we dont use aku or gue untuk menunjukkan 'aku', commonly use 'saya'. Well, sebenarnya itu gak penting banget, mau aku, gue, saya, beta, or anything else, maknanya sama aja.

By the way. Sekarang hidup gue udah banyak berubah. You know, a few month ago, gue masih struggle dengan penelitian, masih stuck sama pikiran "gue kapan wisudanya, gue gak mau jadi mahasiswa yang ketinggalan, or masa geng gue wisuda duluan terus gue kesisa sendiri" and etc. Dan pikiran itu sangat sangat menguras tenaga. But now, gue lagi duduk di kursi kantor di tempat gue kerja, stuck di depan PC di jam istirahat, dan ini adalah hari ke 6 gue kerja di salah satu perusahaan contractor and general supply di daerah gue. Sejak gue kerja, yang sebelumnya telah melewati masa pengangguran selama 2 bulan, gue belajar banyak hal. You know, dunia kerja gak segampang dunia kuliah and what i want now is gue mau kuliah lagi!!!!!

Banyak faktor yang nyebabin kenapa kuliah lebih gampang daripada kerja. As a freshgraduate with no work experience, gue kaget dengan perubahan ini, dan tentu perlu adaptasi. Yang dulunya saat kuliah santai, berangkat jam 7.30, pulang jam 11 atau kadang jadwal padat sampai sore karena praktikum, or sekalipun saat research, gue rasa lebih ringan di banding bekerja. kenapa?

Karena di dunia kerja, kita DITUNTUT. You know, di-tuntut. yang dulunya kita bisa hangout tiap sore, bisa makan siang bareng geng-gengan, malam bisa begadang, bisa jalan-jalan, bolos kuliah sekali dua kali gak masalah, but now, dunia kerja, cuma punya libur sabtu dan minggu. Gak bisa sembarang bolos kerja, gabisa hangout, kerja dari jam 7 sampe jam 5 pun istirahat cuma 1 jam, selepas kerja, malamnya langsung istirahat and its a must because if u dont take a rest bisa bikin kerjaan di hari berikutnya berantakan karena gak fit. Belum lagi tuntutan atasan, dan masa-masa menjadi newbie itu yang paling keras. Its ok if u have a work experience, so u're not too shock, but me, baru lulus, gak pernah kerja, kerjanya pun gak straight dengan major saat kuliah, it so exhausted! Melelahkan. But what u can do? Apa gara-gara gue nggak punya pengalaman lantas nyerah gitu aja? or karena gue gak tahan dengan schedule kerja yang padat & tuntutan yang berat? ditambah mesti adaptasi dengan orang baru, wajah baru, watak baru yang effected banget sama attitude gue dalam bersikap. Yang dulunya asik dengan teman-teman, becanda ngalur ngidul, sekarang masih lebih banyak diam, pencitraan and etc, dan yang bikin sulit because i'm not kind of people who easy going with a new people i just met. Gue sulit banget untuk adaptasi. Untuk say hi heboh sana sini caper, ngelucu, talkative menjadi sangat sulit, yang notabenenya sangat mudah sekali kalau bareng geng-gengan dan teman-teman kampus.

But ini masih berjalan sebentar, belum selangkah, pun setengah langkah, masih sangat baru. Gue gak tau sebulan ke depan, setahun ke depan, dua tahun dan seterusnya. Bisa jadi yang sekarang masih berat banget untuk adaptasi, masih belajar watak tiap orang, masih belajar nerima candaan yang menurut gue gak lucu, besok bisa jadi kembali talkative, ramah, becanda sana sini. Yeah, lets see tomorrow.

Actually, kerja sebenarnya bukan target awal gue, its a second choice, because i have a dream, the dream that i cant even forget and still keep it on yang seharusnya gue capai dan gue kejar. But faktanya, setelah gue putuskan untuk berserah diri, akhirnya gue harus kerja. But my dream bakal selalu gue kejar dan harus gue raih, sebisa mungkin! I know Allah is the best planner, how much effort u spend, He will give u equally or more than u have spend! Semoga tetap semangat dan istiqomah dengan target awal, karena keep ur dream on is the hardest things to do, apalagi harus break kejar karir dulu.





Much love,
Ika

NB : i wrote this randomly post at 1 pm, and i post it after a short editing at 7 pm. This show how tight my schedule was ^^

Thursday, May 14, 2015

cuapcuap

hi :D

jadi hari ini hari jumat, hari kejepit -kamis kenaikan isa al masih, sabtu isra mi'raj- dan saya liburin diri sendiri hahahha

saya nggatau saat ini mau bahas apa di blog saya, yang pasti, sekarang, saat ini, saya sedang duduk manis di meja belajar dengan laptop dan pikiran bingung pagi ini mau sarapan apaa :( biasaa anak rantau. sesama anak rantau pasti ngerti HAHAHAH

jadi sejak terakhir kali saya nulis blog, itu sekitar sebulan yang lalu kali ya, saya lupa, makluuuuuummmm anak semester akhir yang lagi fight sama research pikirannya sedikit terganggu (sepertinya) hahahhaha.
Selama sebulan terakhir ini, ngomong-ngomong tentang penelitian, i'm on the top of struggle life ever kali ya. Gila men, selama sebulan ini, saya berkutat dengan research di tahap akhir yang rumit bangeeeeeettt! jadi ceritanya panjang, kalau saya ceritain mungkin yang bakal ngerti cuma partner research saya aja kali ya hahahaha kenapa? loh iya, cuma teman seperjuangan yang tau bagaimana kerasnya jatuh bangun kita, orang lain mah cuma bisa liat, orang lain mah nggak tau apa-apa, nggak tau gimana kerasnya perjuangan kita. Dan cuma Allah yang tahu :')

Jadi selama sebulan ini, saya gagal berkali-kali, BERKALI-KALI. Selama beberapa hari saya down banget. Apa yang buat saya down? Pikiran saya sendiri. saya terlalu overthinking like the world will be end cuma karena saya gagal, padahal nggak kan -_- apalagi yang namanya penelitian, gagal mah udah terlalu mainstream, cuma saya nya aja yang lebay. Tapi emang bener kok, saya diperbudak pikiran saat itu, otak saya mikir keras, mikirnya kayak what should i do? could i finish my college this year? maybe i will be left by my friends then im alone on the laboratorium doing my research while everybody just take their diploma. gila banget kan?!!! well mungkin kalian yang baca, khususnya yang masih junior or sophomore atau masih high school, junior high school, elementary school (kali aja yeey) hahahha cuma bisa baca doang, but sometime kalian pasti ngerasain kok gimana struggle-nya penelitian.

But saya bersyukur (as always), itu semua udah lewat (walaupun yang lewat cuma sebagian dari skenario hidup saya hahaha) :D alhamdulillah sekarang saya sudah melewati masa itu karena sudah ada pencerahan dari penelitian sayaaa (yeaaaayyyy) dan ( sebenarnya masih) berjuang untuk selesain tahap akhir. Ini semua berkat kebaikan hati professor pembimbing saya, dan (yang paling penting) sudah di takdirkan Allah untuk warnain hidup sayaa :D doain ya guys, supaya saya wisuda secepatnya. saya bosen minta uang muluk ke orang tua, maluuu guys umur segini masih tangan di bawah :') 20 tahun loooohhh masih minta uang ke orang tuaa, ya walaupun masih dalam batasan wajar sih sebenarnya hehehe

ngomong-ngomong soal umur, 2 hari lagi umur saya bertambah dan waktu hidup saya berkurang :') sedih yaaaa :') tepat 17 Mei besok saya hidup di dunia ini totalnya 21 tahun, tuaaa yaaa hahahha
nah, kalau ulang tahun pasti ada wish kan?! wish saya banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak hahahah wajar loh, namanya juga manusia. Tapi yang paling penting semoga saya bisa bahagiain orang tua dan adik-adik saya dunia akhirat amiiiinnn

We make a wish berarti kita berdoa kan? doa itu bagus loh guys, justru kalau kita nggak berdoa kita jadi manusia sombong, kenapa? kita gak bakalan mampu wujudin semua keinginan kita tanpa minta bantuan ke Tuhan! sombong banget lu gak perlu doa buat wujudin mimpi-mimpi lu -____-

udah ah, nggak ada cuap cuap basa basi lagi yang perlu di bahas. doain aja yang guys semoga apa yang sy doain terwujud. amiiiinnnnn

thankyou for spend your time buat baca cuap-cuap nggak penting dari saya hahaha



Lombok, 15 Mei 2015
with love,

ika