Monday, December 14, 2015

POLIGAMI

Lelaki, entah yang bergama (alim) maupun tidak, banyak yang memanfaatkan kebolehan poligami sebagai bentuk pembenaran atas nafsu mereka terhadap wanita lain. 

Saya mengerti naluri lelaki yang memang tingkat keinginan untuk memiliki lebih dari satu perempuan itu tinggi, pun banyak yang mengatakan "kalau gak ada keinginan untuk nambah istri, gak normal". Saya sebagai wanita yang tidak tahu menahu tentang naluri lelaki cuma bisa mengiyakan. Saya juga tidak bisa menyalahkan tentang perijinan poligami, karena memang sudah tertulis di Al-Quran.

"Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3)."

Ayat inilah yang kemudian dijadikan pembenaran atas kebolehan poligami. Diagung-agungkan atas kehalalannya. Halal memang, tapi kebanyakan hanya mengambil sepotong bagian "Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat" ayat saja, tanpa melihat syarat-syarat yang lain.

Seandainya lelaki berpikir, kemudian mendalami Al-Quran, syarat-syarat untuk poligami itu tidak mudah. Yakin bisa berlaku adil dengan 2 istri? Kalau istri satu saja masih ditelantarkan, di dzolimi, disakiti hatinya?! Pernah berpikir tanggung jawab poligami sebesar apa dan balasannya apa jika tidak bisa berlaku adil??

Faktanya, lelaki yang berpoligami, kebanyakan lelaki yang isi Al-Quran saja mereka tidak paham. Well, bukan menyudutkan salah satu pihak, tapi faktanya memang begitu. Walaupun di lain pihak ada beberapa yang memang terlihat seperti mengerti agama tetapi tetap berpoligami.

"Lantas, karena tanggung jawab poligami berat, kita lelaki lebih baik tidak poligami? Padahal lelaki sudah tercipta dengan naluri untuk memiliki lebih dari satu istri. Lebih baik mana selingkuh di belakang daripada poligami?"

Ya, faktanya lelaki punya naluri untuk memiliki lebih dari satu wanita, kalau tidak ada naluri tersebut, berarti tidak normal, begitu katanya. Oke, saya iyakan, sekalipun saya sendiri sebagai wanita tidak tahu menahu tentang naluri tersebut memang ada secara lahiriah atau tidak. Tapi sadar tidak?! Naluri tersebut ada karena nafsu, bukan?!

Lantas kenapa nafsu itu tidak di jaga? Bukankah kita sudah diberitahu trik untuk menjaga nafsu seperti menjaga pandangan, berpuasa, dan sebagainya. Kenapa trik itu tidak di pakai? Kenapa nafsu untuk memiliki dua istri dibiarkan liar kesana kemari?!

Istri mungkin tidak memiliki sesuatu seperti wanita lain, tapi apakah itu tidak bisa dikomunikasikan untuk diperbaiki? Kalau kurang cantik, seksi, langsing, kenapa tidak dikomunikasikan kemudian difasilitasi agar tujuan keinginan tercapai? Bukan dengan cara mencari barang baru. Perilaku istri pun bergantung bagaimana pengarahan suami. Jika suami baik mendidik, berkomunikasi, saya rasa kekurangan-kekurangan itu bisa ditutupi. 

Selain itu kemana rasa syukur? seburuk-buruknya paras istri, entah menggendut, keriput, ubanan, cobalah untuk diingat bagaimana kamu begitu menginginkan dia hingga bersusah payah memberanikan diri ke ayahnya dulu untuk meminta dinikahkan? 

Kenapa tidak berpikir sejauh itu? 

Dia yang sudah melahirkan anak-anakmu, yang mendidik anak-anakmu, apa tidak ada bentuk rasa terima kasih? Terima kasih bukan soal nafkah saja, tapi hati.

Tidakkah ada keinginan untuk menyejukkan hati istri dengan selalu setia tanpa melirik yang lain? Entahlah. Mungkin karena dikuasai nafsu yang mengatasnamakan naluri lelaki, alhasil otak pun tidak lagi berguna.

"Well, karena tidak ingin menyakiti hati istri, tidak usah poligami, tapi selingkuh di belakang, tanpa ketahuan istri"

Yakin gak bakalan ketahuan?

Allah itu Maha Adil, sebusuk-busuknya bangkai disimpan, tetap saja baunya akan keluar. Sebaik apapun disembunyikan, 1, 2, atau 3 bulan tertutup rapat, lantas bulan-bulan berikutnya yakin nggak ketahuan?

FYI, wanita itu diberi kemampuan lebih daripada laki-laki, termasuk keingintahuan wanita lebih tinggi daripada laki-laki. Makanya di sekolah, kebanyakan yang selalu juara kelas wanita bukan?! Ya, karena itu. Wanita itu pintar. Pintar juga mencari tahu! Jadi serapat apapun disembunyikan, pasti akan ketahuan. Saya bisa jamin itu.

"Tapi kalau wanita mengijinkan suaminya berpoligami, jaminannya surga"

Untuk bagian pembenaran yang ini, tergantung pada bagaimana tingkat kesabaran wanita tersebut. Juga bagaimana tingkat keadilan suami dalam mengayomi istri. Syukur-syukur kalau berlaku adil, kalau tidak? Mau masuk neraka? Terus kalau istri 2, anak tambah banyak, yakin mampu biayai? 


Entahlah, tulisan ini saya buat atas dasar keterbatasan pandangan saya terhadap poligami. Saya hanya anak kecil berumur 21 tahun dan belum menikah, yang kemudian corat coret nggak jelas di blog saya tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang poligami. Saya tidak bermaksud mengajak kalian untuk memiliki pola pikir yang sama, tidak pula men-justifikasi pihak lain. Ini hanya hasil tulisan waktu luang saya.




Salam,
Ika Kurnia

Friday, December 4, 2015

A Brand New World

Udah lama gak ngisi blog lagi sejak struggle sama penelitian yang, uh, so hard. Now, banyak banget perubahan dalam hidup gue. Pun gaya dalam tulis menulis gue coba untuk lebih universal. Kenapa? i re-read my old post, and i thought it was like.... i dont know how to describe it exactly but saya is too formal haha. But u know, in Lombok and Sumbawa especially, we dont use aku or gue untuk menunjukkan 'aku', commonly use 'saya'. Well, sebenarnya itu gak penting banget, mau aku, gue, saya, beta, or anything else, maknanya sama aja.

By the way. Sekarang hidup gue udah banyak berubah. You know, a few month ago, gue masih struggle dengan penelitian, masih stuck sama pikiran "gue kapan wisudanya, gue gak mau jadi mahasiswa yang ketinggalan, or masa geng gue wisuda duluan terus gue kesisa sendiri" and etc. Dan pikiran itu sangat sangat menguras tenaga. But now, gue lagi duduk di kursi kantor di tempat gue kerja, stuck di depan PC di jam istirahat, dan ini adalah hari ke 6 gue kerja di salah satu perusahaan contractor and general supply di daerah gue. Sejak gue kerja, yang sebelumnya telah melewati masa pengangguran selama 2 bulan, gue belajar banyak hal. You know, dunia kerja gak segampang dunia kuliah and what i want now is gue mau kuliah lagi!!!!!

Banyak faktor yang nyebabin kenapa kuliah lebih gampang daripada kerja. As a freshgraduate with no work experience, gue kaget dengan perubahan ini, dan tentu perlu adaptasi. Yang dulunya saat kuliah santai, berangkat jam 7.30, pulang jam 11 atau kadang jadwal padat sampai sore karena praktikum, or sekalipun saat research, gue rasa lebih ringan di banding bekerja. kenapa?

Karena di dunia kerja, kita DITUNTUT. You know, di-tuntut. yang dulunya kita bisa hangout tiap sore, bisa makan siang bareng geng-gengan, malam bisa begadang, bisa jalan-jalan, bolos kuliah sekali dua kali gak masalah, but now, dunia kerja, cuma punya libur sabtu dan minggu. Gak bisa sembarang bolos kerja, gabisa hangout, kerja dari jam 7 sampe jam 5 pun istirahat cuma 1 jam, selepas kerja, malamnya langsung istirahat and its a must because if u dont take a rest bisa bikin kerjaan di hari berikutnya berantakan karena gak fit. Belum lagi tuntutan atasan, dan masa-masa menjadi newbie itu yang paling keras. Its ok if u have a work experience, so u're not too shock, but me, baru lulus, gak pernah kerja, kerjanya pun gak straight dengan major saat kuliah, it so exhausted! Melelahkan. But what u can do? Apa gara-gara gue nggak punya pengalaman lantas nyerah gitu aja? or karena gue gak tahan dengan schedule kerja yang padat & tuntutan yang berat? ditambah mesti adaptasi dengan orang baru, wajah baru, watak baru yang effected banget sama attitude gue dalam bersikap. Yang dulunya asik dengan teman-teman, becanda ngalur ngidul, sekarang masih lebih banyak diam, pencitraan and etc, dan yang bikin sulit because i'm not kind of people who easy going with a new people i just met. Gue sulit banget untuk adaptasi. Untuk say hi heboh sana sini caper, ngelucu, talkative menjadi sangat sulit, yang notabenenya sangat mudah sekali kalau bareng geng-gengan dan teman-teman kampus.

But ini masih berjalan sebentar, belum selangkah, pun setengah langkah, masih sangat baru. Gue gak tau sebulan ke depan, setahun ke depan, dua tahun dan seterusnya. Bisa jadi yang sekarang masih berat banget untuk adaptasi, masih belajar watak tiap orang, masih belajar nerima candaan yang menurut gue gak lucu, besok bisa jadi kembali talkative, ramah, becanda sana sini. Yeah, lets see tomorrow.

Actually, kerja sebenarnya bukan target awal gue, its a second choice, because i have a dream, the dream that i cant even forget and still keep it on yang seharusnya gue capai dan gue kejar. But faktanya, setelah gue putuskan untuk berserah diri, akhirnya gue harus kerja. But my dream bakal selalu gue kejar dan harus gue raih, sebisa mungkin! I know Allah is the best planner, how much effort u spend, He will give u equally or more than u have spend! Semoga tetap semangat dan istiqomah dengan target awal, karena keep ur dream on is the hardest things to do, apalagi harus break kejar karir dulu.





Much love,
Ika

NB : i wrote this randomly post at 1 pm, and i post it after a short editing at 7 pm. This show how tight my schedule was ^^

Thursday, May 14, 2015

cuapcuap

hi :D

jadi hari ini hari jumat, hari kejepit -kamis kenaikan isa al masih, sabtu isra mi'raj- dan saya liburin diri sendiri hahahha

saya nggatau saat ini mau bahas apa di blog saya, yang pasti, sekarang, saat ini, saya sedang duduk manis di meja belajar dengan laptop dan pikiran bingung pagi ini mau sarapan apaa :( biasaa anak rantau. sesama anak rantau pasti ngerti HAHAHAH

jadi sejak terakhir kali saya nulis blog, itu sekitar sebulan yang lalu kali ya, saya lupa, makluuuuuummmm anak semester akhir yang lagi fight sama research pikirannya sedikit terganggu (sepertinya) hahahhaha.
Selama sebulan terakhir ini, ngomong-ngomong tentang penelitian, i'm on the top of struggle life ever kali ya. Gila men, selama sebulan ini, saya berkutat dengan research di tahap akhir yang rumit bangeeeeeettt! jadi ceritanya panjang, kalau saya ceritain mungkin yang bakal ngerti cuma partner research saya aja kali ya hahahaha kenapa? loh iya, cuma teman seperjuangan yang tau bagaimana kerasnya jatuh bangun kita, orang lain mah cuma bisa liat, orang lain mah nggak tau apa-apa, nggak tau gimana kerasnya perjuangan kita. Dan cuma Allah yang tahu :')

Jadi selama sebulan ini, saya gagal berkali-kali, BERKALI-KALI. Selama beberapa hari saya down banget. Apa yang buat saya down? Pikiran saya sendiri. saya terlalu overthinking like the world will be end cuma karena saya gagal, padahal nggak kan -_- apalagi yang namanya penelitian, gagal mah udah terlalu mainstream, cuma saya nya aja yang lebay. Tapi emang bener kok, saya diperbudak pikiran saat itu, otak saya mikir keras, mikirnya kayak what should i do? could i finish my college this year? maybe i will be left by my friends then im alone on the laboratorium doing my research while everybody just take their diploma. gila banget kan?!!! well mungkin kalian yang baca, khususnya yang masih junior or sophomore atau masih high school, junior high school, elementary school (kali aja yeey) hahahha cuma bisa baca doang, but sometime kalian pasti ngerasain kok gimana struggle-nya penelitian.

But saya bersyukur (as always), itu semua udah lewat (walaupun yang lewat cuma sebagian dari skenario hidup saya hahaha) :D alhamdulillah sekarang saya sudah melewati masa itu karena sudah ada pencerahan dari penelitian sayaaa (yeaaaayyyy) dan ( sebenarnya masih) berjuang untuk selesain tahap akhir. Ini semua berkat kebaikan hati professor pembimbing saya, dan (yang paling penting) sudah di takdirkan Allah untuk warnain hidup sayaa :D doain ya guys, supaya saya wisuda secepatnya. saya bosen minta uang muluk ke orang tua, maluuu guys umur segini masih tangan di bawah :') 20 tahun loooohhh masih minta uang ke orang tuaa, ya walaupun masih dalam batasan wajar sih sebenarnya hehehe

ngomong-ngomong soal umur, 2 hari lagi umur saya bertambah dan waktu hidup saya berkurang :') sedih yaaaa :') tepat 17 Mei besok saya hidup di dunia ini totalnya 21 tahun, tuaaa yaaa hahahha
nah, kalau ulang tahun pasti ada wish kan?! wish saya banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak hahahah wajar loh, namanya juga manusia. Tapi yang paling penting semoga saya bisa bahagiain orang tua dan adik-adik saya dunia akhirat amiiiinnn

We make a wish berarti kita berdoa kan? doa itu bagus loh guys, justru kalau kita nggak berdoa kita jadi manusia sombong, kenapa? kita gak bakalan mampu wujudin semua keinginan kita tanpa minta bantuan ke Tuhan! sombong banget lu gak perlu doa buat wujudin mimpi-mimpi lu -____-

udah ah, nggak ada cuap cuap basa basi lagi yang perlu di bahas. doain aja yang guys semoga apa yang sy doain terwujud. amiiiinnnnn

thankyou for spend your time buat baca cuap-cuap nggak penting dari saya hahaha



Lombok, 15 Mei 2015
with love,

ika

Saturday, March 7, 2015

Anak Rantau

Sebelum mulai membahas, fyi saya juga anak rantau :))
Saya berasal dari Sumbawa dan merantau ke ibukota provinsi, Mataram. Sejak lulus SMP saya merantau dan melanjutkan pendidikan SMA di kota mataram, jadi kalau di kalkulasikan, saya sudah merantau lebih dari 6 tahun dan hidup jauh dari orang tua. Jika dilihat dari lamanya waktu merantau, bisa dikatakan sudah berpengalaman untuk hidup mandiri, tapi itu tidak menjadi tolak ukur yang akurat, menurut penilaian saya sendiri yang menilai diri saya sendiri, saya belum cukup berpengalaman hidup mandiri. Kenapa? saya masih minta duit orang tuaaaa :'( saya masih suka ngeluh kalau ada masalah yang terkadang orang tua saya yang menyelesaikan, saya masih sering nangis, dan sebagainya. Tapi di balik itu semua saya bersyukur, some people mungkin yang kurang beruntung harus bekerja di daerah orang jauh dari orang tua untuk dapat melanjutkan sekolah/kuliahnya :') but they will be a success. Pasti. Proses kan tidak pernah mengkhinati hasil :))

Karena lama-nya waktu yang saya lewati jauh dari tanah kelahiran dan orang tua, saya belajar banyak. Banyak sekali. Pikiran saya lebih terbuka, saya lebih tau perbandingan kebudayaan Lombok dan Sumbawa, suka duka menjadi anak rantau pun saya alami, termasuk (maaf) ketika saya harus berhadapan dengan orang-orang rasis, ketika saya harus menjadi kaum minoritas, dan banyak lagi. Saya tidak mau membahas lebih jauh tentang ke-rasis-an, karena you know-lah, di balik sila ketiga pancasila, perbedaan adat dan budaya (sekalipun sama2 Indonesia) yang berujung ke paradigma konyol masih saja (terkadang) dijadikan alasan untuk men-judge satu sama lain. Karena ada yang lebih miris sekali yang harus saya bahas. anak rantau itu sendiri.

Berawal dari definisi anak rantau. anak rantau adalah......... bla bla bla. Intinya, anak yang meninggalkan kampung halamannya jauh dari keluarga dengan alasan tertentu. Nah disini saya akan bahas yang lebih spesifik. Anak rantau yang merantau untuk mengenyam pendidikan. nah! ini dia. saya terkadang bangga, menjadi anak rantau.

Anak rantau dilatih untuk lebih mandiri. Anak rantau dilatih untuk survive. Di usia SMA, untuk saya sendiri sudah harus merasakan perasaan 'tidak enak' minta uang terus sama orang tua sementara anak-anak lainnya baru merasakan itu ketika mereka lulus kuliah/wisuda. Anak rantau harus bisa mengatur keuangan. kalau boros, akan dimarahi orang tua karena jumlah uang yang dikirimkan habis sebelum waktunya, anak rantau harus mengurus segalanya sendiri. Dari bagian yang bisa dikatakan menyedihkan ini, ada satu bagian yang sangat dinantikan oleh kebanyakan anak di usia remaja, kebebasan. Nah! Anak rantau bebas mau kemana saja, toh walaupun di telpon setiap hari, ditanyakan sedang apa, dimana, dan sebagainya, anak rantau bisa saja mengarang cerita ke orang tua, toh orang tua tidak tahu. Jujur, dari saya sendiri, saya pernah melewati tahap ini, ya namanya juga remaja, selama bohongnya gak sampe mencelakai diri sendiri (saya cari pembenaran nih hahahah jangan diikutin ya). Tapi jujur untuk bagian kebebasan ini, bukan menjadi alasan kenapa saya ingin sekolah di luar daerah. Alasannya karena pendidikan di kota jauh lebih baik daripada pendidikan di kampung. kita semua tahu itu.

Orang tua saya rela membiayai sekolah keluar daerah dengan fasilitas memadai yang mendukung pendidikan saya (alhamdulillah) bisa dipenuhi, jika dibandingkan anak-anak rantau yang lainnya yang bahkan orang tuanya tidak mampu membiayai biaya sekolah mereka, saya masih tetap bersyukur dengan keadaan saya.

Dibalik adanya anak rantau yang ingin sekali sekolah setinggi-tingginya tetapi tidak di dukung kebutuhan finansial dan kurangnya support orang tua yang akhirnya berhenti sekolah atau ada yang dengan gagah berani membiayai sekolahnya sendiri, justru ada anak rantau yang kebutuhan finansial dan dukungan dari orang tuanya sangat tinggi, fasilitasnya dicukupkan, apapun yang diinginkan di beri demi pendidikan anaknya sekalipun orang tua harus banting tulang dari pagi sampai malam, eh tapi si anak rantau malah menganut paham hedonisme, tidak belajar dengan sungguh-sungguh, terlalu mementingkan kehidupan percintaan, gila kebebasan, dan sebagainya. Adaaaaa. Dan ini yang dilakukan sebagian anak rantau lainnya

Saya sebagai saudara sesama anak rantau miris harus melihat saudara sesama rantau yang ketika pulang kampung di berjilbab sopan, saat balik ke rantauan sudah macam ...... ah entah apa bahasa sopannya. Sedih melihat bagaimana teman-teman yang bukan anak rantau dengan antusias belajar yang tinggi, sedangkan anak rantau yang seharusnya antusias belajarnya 2x lebih tinggi malah sibuk main-main, menghabiskan waktu pacaran, telponan, jalan-jalan,bergaya sana sini, sok ke-kota-kotaan yang kampungan, pamer motor yang di modifikasi entah berbagai macam rupa, balap, nongkrong di club malam dan sebagainya sedangkan disekolah nilai jeblok, ipk parah. terus gunanya merantau apa? kalau malah mengubah moral menjadi semakin buruk.

Kita terlalu banyak menggunakan waktu kebebasan yang orang tua kita percayakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Oke, nilai atau ipk tidak menjadi tolak ukur orang sukses, lantas tau tidak apa yang bikin orang tua bangga disaat anak-anaknya sedang mengenyam pendidikan? Mereka bahagia melihat anak-anaknya sekolah yang rajin, dan jauuh lebih bangga dan bahagianya jika nilai sekolah atau ipk yang baik, itu saja, sederhana bukan?! Sehingga keringat dan darah orang tua tidak terbuang sia-sia.

Tapi dari kita, anak rantau, sedikit yang menyadari. justru gila dengan kebebasan. congkak. karena kecongkakan inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya pendapat salah tentang kaum minoritas oleh kaum mayoritas.

Semoga kita semua, anak rantau, bisa menjadi lebih baik

Salam, ika.
Hi

This is my new blog ^.^ a long time ago pernah buat sih, tapi yaaaaa i don't know exactly reasons why mungkin cuma karena saya udah nggak suka lagi sama blog lama hahahaha
well ini basa basi nggak penting banget... garing
i decided untuk lebih sering ngisi blog ini
semoga istiqomah.


ini aktivitas saya beberapa bulan terakhir


i am a scientist, chemistry major. Not funny right. Banyak yg bilang kalau jurusan science mah keren lah pinter lah bla bla bla ya saya menanggapinya dengan enjoy aja sih, tapi ini serius, sebenernya nggak keren sama sekali!!! kerena saya tersiksaaaaaaa (sometime)
Tapi kalau mood 'rajin' belajar saya lagi meningkat banget, saya bersyukur jadi one of student college in this major.

untuk postingan pertama ini saya mau cerita sedikit tentang apa yang sedang saya jalani sekarang because im totally stress now, guys....
saya sedang menjalani proses research yang harus dilewati untuk menyelesaikan skripsi. Saya sudah penelitian dari november '14 until now (maret '15) dan belum kelar-kelar, guys. Kebayang nggak tersiksanya gimana?
Jadi faktor yang bikin tersiksa itu banyak.

Pertama
Yang paling penting, sekaligus ngisi bagian 'tekanan batin' paling dominan, pertanyaan dari orang tua saya...
"kapan wisuda? maret nggak jadi. Janjinya juni. Terus juni beneran bisa gak?" and bla bla bla... ssaya ngerti namanya juga orang tua yaaaa :') mereka nggak sabar lah liat anaknya cepet lulus, apalagi saya an older sisters, tapi ya mungkin mahasiswa semester akhir pada ngerti ya rasanya gimana, saya kan juga manusia hiks hiks :'''''
Kedua
Jadi, penelitian ini adalah salah satu proyek dari dosen pembimbing saya, karena proyek... maka biaya penelitian si dosen yang nanggung (alhamdulillah)...... tapiiiii, ada tapi-nya nih, karena ini research proyeknya dosen, otomatis peneliti (saya) harus mengikuti segala keinginan si dosen ini. Jangan pikir macem-macem ya! Contohnya, dari hasil penelitian saya, senyawa yang dihasilkan dari hasil analisis instrumen tidak sesuai dengan hipotesis, akhirnya berlakulah rumus 'coba reaksikan dengan ini, terus ini, nanti lihat hasilnya bagaimana', setelah hasilnya keluar 'coba reaksikan dengan ini, terus ini, nanti lihat hasilnya bagaimana' dan lagi dan lagi dan lagi, kebayang kan gimana penelitian mau kelar kalau begini terus. Tapi yasudahlah, saya bersyukur juga sih, soalnya dari masalah macam begini nih, saya jadi belajar lebih rajin dari sebelumnya, lebih bijak dari sebelumnya, lebih berpengalaman dari sebelumnya, dan lebih kuat! beneran deh. semua mahasiswa semester akhir pasti ngerasain tahap ini
ketiga
nah ini nih yang paling nyakitin guys..... pikiran "temen-temen lain yang wisuda duluan sementara saya masih duduk di lab megang pipet tetes" aaakkkk ini bayangan yang saya buat sendiri di pikiran saya, dan yang paling menakutkan ;'( dan karena pikiran ini yang sering menghantui saya, alhasil tiap 5 waktu sehari isi doa saya selalu ada sisipan "Ya Allah, bantu saya supaya Juni bisa wisuda yaa", karena saya sangat sangat percaya kekuasaan Tuhan, Dia kan maha Segalanya :')

Intinya, penelitian buat saya semakin jadi lebih baik :)
Research make me more better!


Salam, Ika.