Sekarang saya sadar kenapa Indonesia belum maju, karena emang mental kita belum siap buat jadi negara maju. Sederhananya saja seperti kondisi saya saat ini, saya dari sejak SMP bermimpi supaya bisa kuliah keluar negeri, and now, sadly, it still be a dream. Kadang saya mikir kok bisa ya saya gak bisa wujud-in mimpi saya? Padahal kan banyak orang sekitar saya yang sudah berhasil mewujudkan mimpi mereka untuk kuliah di luar negeri, lagian saya yakin kok saya mampu menyesuaikan diri dengan cara belajar di sana, saya punya tekad kuat kok, saya yakin saya bisa, otak saya juga gak jauh beda sama mereka. But, until now, di balik tekad dan keyakinan saya yang tinggi serta kepedean saya yang over, sampai saat ini belum ada gerakan yang bikin saya bener-bener emang mau wujudin mimpi saya. I still stuck in my comfort zone. Saya emang lagi improve skill English saya, tapi itu belum seberapa. Belajar pun masih angen-angenan. Belum lagi kadang semangat yang suka naik turun, kadang nggak konsisten juga, yeah, its tough guys. Terus apa hubungannya dengan Indonesia yang nggak bisa maju?? Well. Contoh di atas itu hanya sederhana, tapi kalau di lihat lebih dalam lagi, emang orang-orang tipikal seperti saya ini nggak sedikit. Intinya, kita nggak punya mental untuk kerja keras wujudin apa yang kita mau. Kita terlalu malas. Kita terlalu takut untuk ambil resiko. Kita selalu ingin yang aman-aman saja. Itulah kita, orang Indonesia. Kalau anak-anak mudanya kayak saya, mentalnya kayak saya, kapan Indonesia bisa maju?!
Belum lagi kebanyakan anak muda sekarang, instead of kejar mimpi, kerja keras, berusaha lakukan yang terbaik buat orang lain, malah asyik-asyikan nge-mall, ketawa ketiwi gak jelas di snapgram, nongkrong, foto ala-ala, and so many things yang useless banget. Jangankan mau berguna untuk orang lain, buat diri sendiri aja nggak ada gunanya. Budaya hidup hedonis masih dipertahankan, pamer sana pamer sini, sedangkan budaya hidup sederhana malah disinisin dan dikatain. Gimana Indonesia mau maju?
Banyak dari kita, generasi sekarang, instead of beli buku buat nambah pengetahuan or browsing yang bermanfaat, kita lebih banyak habisin duit dan waktu buat 'what kind of style that hip nowadays? sekarang trendnya gaya foto kayak gimana ya? sekarang hitsnya baju model apa ya?' -_- dan juga kita masih kepo tidak pada tempatnya. Lucunya lagi orang kita senang banget apa-apa nyalahin orang, senang banget komplain sana komplain sini. Contoh kecil saja ya, saya tinggal di daerah tambang, di mana perusahaan yang mengolah pertambangan tersebut merupakan salah satu perusahaan besar di Indonesia. Hampir seluruh aspek bergantung pada perusahaan pertambangan ini, salah satunya lapangan pekerjaan. Terus lucunya dimana? Wait. Baru-baru ini i read post in facebook that anak muda disini menyuarakan tentang bagaimana perusahaan tambang ini tidak bisa menyelesaikan masalah pengangguran, niat buat orasi lah, dan banyak gerakan lain. Lucu aja gitu. Gini loh kakak-kakak adek-adek, masalah pengangguran nggak bakal bisa diselesaikan oleh pemerintah. Kita nggak bisa komplain ke pemerintah karena kita jadi pengangguran. Coba deh bayangin, tiap tahun berapa banyak anak muda yang baru lulus dari sekolahnya, selalu ada kan? Maka mustahil kalau masalah pengangguran itu bisa diselesaikan pemerintah, wong tiap tahun sekolah-sekolah dan universitas mencetak generasi muda yang sudah siap ilmunya. Nggak ada cerita tuh dalam setahun sekolah maupun universitas stop kelulusan supaya nggak mencetak generasi yang bakal jadi pengangguran -_- konyol guys. So why we still complaining masalah pengangguran? Sedangkan setiap tahun generasi muda yang siap dengan ilmunya tercetak!! *geleng-geleng*. Ini juga nih yang bikin Indonesia nggak maju. Kita nggak mandiri. Suka banget nyalahin orang atas penderitaan yang terjadi ke kita. Kerja loh nggak cuma di tambang, nggak cuma di kantor, nggak cuma jadi karyawan. Banyak hal yang bisa dilakuin selain mengeluh minta dipekerjakan. Rasulullah loh udah ngajarin bahwa 90% rejeki datang dari perniagaan. Lihat deh kokoh kokoh dan cici cici yang jualan, mereka kaya-kaya kan?! Padahal mereka cuma jualan, nggak kerja kantoran, nggak jadi karyawan, itu semua karena mereka mampu lihat peluang, mereka kreatif, mereka kerja keras, nggak bergantung sama orang lain. Banyak hal yang bisa kita lakukan selain nyalahin pemerintah karena nggak menyelesaikan masalah pengangguran.
So guys, mari deh kita berbenah diri. Belajar lebih banyak lagi, bergerak lebih aktif lagi. Buang jauh jauh deh gaya hidup hedonis. Coba lihat orang kayak Mark Zuckerberg, yang kekayaannya segede jaban, dia tetap aja hidup sederhana. Apalagi kita yang hartanya nggak seberapa, malu guys. Pergunakan harta sebaik mungkin, jangan jadi orang yang konsumtif. Koleksi-koleksi baju, sepatu, pernaik pernik itu benar-benar nggak ada gunanya. Kita kan bukan artis yang jual penampilan, so buat apa koleksi ini itu, bergaya se-kece mungkin, ngomong setinggi mungkin, padahal kantong kosong. Kita hidup hedon malah bikin kantong kita kosong dan kantong orang kaya makin tebal. Kita bergaya ala-ala artis tapi nggak ada tuh yang ngajakin buat jadi bintang iklan, yang ada malah tambah susah. Kalau sudah susah, nyalahin orang lain sampe nyalahin pemerintah. Kan lucu. Kemudian berhenti deh mengeluh sama pemerintah atau lembaga tertentu, yuk bergerak nyari peluang dan kesempatan. Supaya hidup kita berguna. Nggak manja dan bergantung sama orang tua. Plus, singkirin jauh-jauh deh itu gengsi. Jangan dipelihara. Jangan maunya cuma kerja di tempat yang prestige aja, coba dari hal-hal kecil. Karena dari hal kecil, jika kita sungguh-sungguh, akan bisa menjadi besar.
Sunday, December 18, 2016
Friday, March 11, 2016
How I Passed My Bachelor Degree With Struggle
Hai :))
Berdasarkan judul yang saya tulis, saya akan menceritakan perjuangan saya semasa kuliah tentang bagaimana saya bisa lulus dengan predikat cumclaude.
Untuk kebanyakan orang, lulus dengan IPK tinggi atau cumclaude adalah impian. Begitu pula dengan saya. Saat semester pertama saya menjalani masa perkuliahan, saya ingat pernah menuliskan mimpi saya untuk bisa menyelesaikan kuliah dengan predikat cumclaude. Dengan 'anteng'nya saya menuliskan mimpi tersebut di notebook saya, dan dengan keyakinan 'saya pasti bisa'.
Kenapa saya yakin? sejujurnya, keyakinan ini tidak berdasar. Saya menjalani kuliah semester pertama dengan sangat santai. Saya pikir, akan mudah mendapatkan nilai, akan mudah dosen mendongkrak nilai, akan sangat gampang mendapatkan nilai A, dan sebagainya. Saya beranggapan, semua tidak akan sulit. Intensitas hangout bareng teman-teman kuliah pun lebih tinggi daripada intensitas belajar. Laporan praktikum pun saya buat dengan motto 'yang penting jadi', peduli buset isinya bakal saya mengerti atau tidak. Dan berjalanlah semester satu dengan penuh keceriaan, tidak ada beban karena percaya akan mendapatkan IP yang tinggi. Tidak ada rasa persaingan atau takut sedikit pun, karena keyakinan dan kepercayaan diri saya yang tinggi saat itu.
Sampailah di akhir semester ketika nilai kuliah satu persatu keluar......
Apa yang terjadi?
Yah. Nilai saya sangat tidak memuaskan. Sangat jauh dari ekspektasi. Sangat jauh dari perkiraan saya. Sangat jauuuuhhh......... Jujur, saya tidak menyangka akan mendapatkan IP sebegitu rendah menurut versi saya saat itu, bukan songong ya karena saya tahu lebih banyak juga yang mendapatkan IP di bawah nilai tersebut, namun karena perbandingan antara ekspektasi dan kenyataan yang sangat jauh berbeda sehingga saya sangat down. Saya mendapatkan IP 3.00, pas, tidak lebih dan kurang. IP pertama saya, yang pada awal semester saya pikir bisa mendapatkan IP 3,5 keatas. Jeblok. Jauh dari perkiraan.
Saat saya mengetahui IP pertama saya, hal pertama yang saya pikir adalah apakah dengan IP segini saya bisa melanjutkan beasiswa saya?! Bagaimana jadinya kalau saya tidak bisa melanjutkan beasiswa saya?! (IP jeblok kok mikirnya keselamatan duit beasiswa ya hahaha, tapi bener, ini fakta)
Fyi, saya mendapatkan salah satu beasiswa dari perusahaan swasta yang ada di daerah saya, dimana beasiswa ini akan mengontrak kita selama 5 tahun masa perkuliahan, tanpa perlu mendaftar ulang dan ikut seleksi beasiswa setiap tahun ajaran baru seperti beberapa jenis beasiswa lainnya, tetapi dengan syarat IPK harus lebih besar atau sama dengan 3,25 keatas. Kalau IPK di bawah dari standar, maka kontrak akan di putuskan secara sepihak. Nilai dari beasiswa ini pun tergolong besar di bandingkan beasiswa yang lainnya.
Bayangkan jika saya harus kehilangan kesempatan tersebut hanya karena nilai saya tidak sesuai standar atau persyaratan. Betapa apes atau bodohnya saya jika kehilangan beasiswa tersebut, sementara banyak orang yang berharap bisa memiliki beasiswa tersebut.
Tapi, syukur-nya, persyaratan tersebut tidak berlaku untuk tahun pertama kuliah, alias untuk tahun pertama, IPK boleh di bawah standar, akan tetapi memasuki tahun kedua atau semester 3, IPK harus sesuai standar persyaratan. Bayangkan, IPK, bukan IP. Saya yakin pembaca tahu kan bedanya apa. Jika di persyaratan itu berbicara IP, maka saya mungkin tidak setakut itu, akan tetapi persyaratannya adalah IPK, komulatif!! Dengan IP semester pertama 3.00, maka untuk semester selanjutnya IP saya harus 3.5 untuk dapat IPK 3.25. Dapatkah kamu bayangkan??? Jujur, saat itu saya merasa tidak mampu bisa meraih IP tersebut, ditambah lagi dengan persaingan yang ketat pun saya sudah tahu kemampuan saya dibandingkan teman-teman sekelas saya. Saya rasa tidak mungkin. Saat itu saya down, saya kurang percaya diri. Tidak mungkin saya bisa mendapatkan IP 3.5 semester selanjutnya, jika dilihat dari apa yang saya peroleh semester ini.
Tapi, entah saat itu kekuatan dari mana, ada sedikit keyakinan bahwa saya tidak boleh menyerah. Dengan usaha dan doa, saya yakin kalau saya pasti bisa. Bukan hal mungkin untuk memperbaiki, karena saya masih punya kesempatan satu semester lagi.
Mulailah saya mengubah pola hidup saya. Saya mengatur jadwal belajar, pun jadwal sehari-hari. Ada banyak perubahan yang saya lakukan. Berikut saya rincikan:
Dan berputarlah saya di jadwal ini. Setiap hari, selama satu semester, dan entah kekuatan dari mana (mungkin karena takut kehilangan beasiswa) membuat saya istiqomah tidak melanggar jadwal yang saya buat sendiri. Tidak lupa pula selalu saya barengi dengan doa dan ibadah yang lebih intens lagi dari sebelumnya.
Hasilnya......
Percaya atau tidak, Allah Maha Besar, IP saya 3.53 saat semester 2. Dan yang paling ajaib, nilai kimia dasar saya C pada semester pertama, hanya satu atau dua orang yang mendapatkan nilai A, karena dosen mata kuliah saya pada semester ini menilai dengan sangat objektif. Jujur. Tidak melebihkan maupun mengurangi. Dan alhasil, pada semester 2, saya mendapatkan nilai A, dengan dosen yang sama pula dengan semester pertama. Dengan hanya segelintir orang juga yang mendapatkan nilai sempurna. Dan nilai ini murni, tidak ada kerjasama.
Saya begitu bersyukur saat itu, apa yang saya doakan, apa yang saya usahakan benar-benar terwujud. Akhirnya saya bisa mempertahankan beasiswa saya dengan IPK 3.26.
.....................................
Tapi perjuangan ini belum berakhir
Semester berikut-berikutnya pun saya lewati dengan berjuang, cuma untuk semester selanjutnya, saya tidak se-rajin semester kedua, tapi tidak semalas semester pertama. Dan alhamdulillah IP saya tidak turun, pun IPK. Dan beasiswa pun tetap saya pertahankan.
Beranjaklah saya ke semester akhir. Saat semester 6 dan 7, IPK saya pas, 3.50. Berjuanglah saya kembali, bahwa saya berada pada ambang batas, atau tepi jurang, dimana saya ingin dan punya harapan untuk lulus dengan predikat cumclaude. Akan tetapi IPK segitu belum bisa mencukupi untuk bisa mendapat predikat cumclaude, karena syarat cumclaude adalah IPK harus lebih besar dari 3.50 (bukan lebih besar sama dengan 3.50), yang berarti saya bisa cumclaude jika IPK saya 3.51. Saya membutuhkan 0.01 point lagi untuk bisa mendapatkan predikat cumcalude.
Berjuanglah saya kembali, dengan usaha dan doa. Ada sedikit ke-optimis-an sebesar 60%, akan tetapi 40%-nya adalah pesimis. Tidak gampang bisa mendapatkan nilai A pada skripsi. Dan kembalilah saya risau lagi "bisa gak ya? insyaallah bisa, tapi kayaknya susah juga".
Dan ternyata, karena rejeki emang gak kemana, berkat usaha dan doa, akhrinya saya bisa lulus dengan predikat cumclaude dengan IPK 3.52. Sedikit memang, tidak seperti yang lainnya yang lulus dengan IPK 3.8-an. Jadi karena IPK yang saya peroleh pas-pasan untuk memenuhi syarat predikat cumclaude, sampai saat ini saya percaya, bahwa, saya hanya beruntung. Allah Maha Baik, memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan predikat sesuai yang saya inginkan, sekalipun dengan nilai yang tidak seberapa, hanya memenuhi syarat saja. Orang yang tahu saya cumclaude, ditambah dengan jurusan yang bisa dibilang sulit, mungkin berpikir saya '.....', tapi jujur, saya tidak pintar. Pun hebat. Saya hanya beruntung. Murni faktor beruntung, hasil dari usaha dan doa. Orang pintar, lulus dengan IPK 3.6~3.9~4. Sedangkan saya hanya 3.52. Nyaris saja tidak mendapatkan predikat cumclaude.
Dan predikat ini sesuai dengan apa yang saya impikan. Yang saya impikan hanya predikat cumclaude, entah itu hanya dengan point 3.51. Entah itu cumclaude karena beruntung, atau cumclaude karena memang pintar. Yang penting cumclaude.
Kenapa?
Karena, saya ingin jadikan ini hadiah untuk kedua orang tua saya. Mungkin untuk sebagian mahasiswa tidak mengharapkan untuk bisa mendapatkan predikat cumclaude, tidak dengan saya. Saya yakin dan percaya, orang tua saya akan bangga jika saya wisuda, dan bangganya bernilai plus jika saya bisa menyelesaikan dengan predikat cumclaude. Setidaknya ini menunjukkan bahwa saya kuliah, jauh, merantau ke daerah orang, punya hasil yang bukan sekedar baik, tapi memuaskan, bahkan istimewa. Percaya deh, sekarang tanya orang tua masing-masing, bangga gak kalau anaknya cumclaude? You have your own answer.
NB : Saya tidak menulis postingan ini untuk membanggakan diri atau sejenisnya, i swear, ini murni cerita hidup saya yang ingin saya bagikan tentang bagaimana saya menyelesaikan kuliah dengan perjuangan untuk mendapat predikat cumclaude, tanpa ada embel-embel sombong dan sebagainya. Please think positively. Entah kenapa saya hanya ingin menulis. Syukur-syukur jika ada yang termotivasi, Untuk yang masih kuliah, semangat terus ya!!!
Regards,
Ika
Berdasarkan judul yang saya tulis, saya akan menceritakan perjuangan saya semasa kuliah tentang bagaimana saya bisa lulus dengan predikat cumclaude.
Untuk kebanyakan orang, lulus dengan IPK tinggi atau cumclaude adalah impian. Begitu pula dengan saya. Saat semester pertama saya menjalani masa perkuliahan, saya ingat pernah menuliskan mimpi saya untuk bisa menyelesaikan kuliah dengan predikat cumclaude. Dengan 'anteng'nya saya menuliskan mimpi tersebut di notebook saya, dan dengan keyakinan 'saya pasti bisa'.
Kenapa saya yakin? sejujurnya, keyakinan ini tidak berdasar. Saya menjalani kuliah semester pertama dengan sangat santai. Saya pikir, akan mudah mendapatkan nilai, akan mudah dosen mendongkrak nilai, akan sangat gampang mendapatkan nilai A, dan sebagainya. Saya beranggapan, semua tidak akan sulit. Intensitas hangout bareng teman-teman kuliah pun lebih tinggi daripada intensitas belajar. Laporan praktikum pun saya buat dengan motto 'yang penting jadi', peduli buset isinya bakal saya mengerti atau tidak. Dan berjalanlah semester satu dengan penuh keceriaan, tidak ada beban karena percaya akan mendapatkan IP yang tinggi. Tidak ada rasa persaingan atau takut sedikit pun, karena keyakinan dan kepercayaan diri saya yang tinggi saat itu.
Sampailah di akhir semester ketika nilai kuliah satu persatu keluar......
Apa yang terjadi?
Yah. Nilai saya sangat tidak memuaskan. Sangat jauh dari ekspektasi. Sangat jauh dari perkiraan saya. Sangat jauuuuhhh......... Jujur, saya tidak menyangka akan mendapatkan IP sebegitu rendah menurut versi saya saat itu, bukan songong ya karena saya tahu lebih banyak juga yang mendapatkan IP di bawah nilai tersebut, namun karena perbandingan antara ekspektasi dan kenyataan yang sangat jauh berbeda sehingga saya sangat down. Saya mendapatkan IP 3.00, pas, tidak lebih dan kurang. IP pertama saya, yang pada awal semester saya pikir bisa mendapatkan IP 3,5 keatas. Jeblok. Jauh dari perkiraan.
Saat saya mengetahui IP pertama saya, hal pertama yang saya pikir adalah apakah dengan IP segini saya bisa melanjutkan beasiswa saya?! Bagaimana jadinya kalau saya tidak bisa melanjutkan beasiswa saya?! (IP jeblok kok mikirnya keselamatan duit beasiswa ya hahaha, tapi bener, ini fakta)
Fyi, saya mendapatkan salah satu beasiswa dari perusahaan swasta yang ada di daerah saya, dimana beasiswa ini akan mengontrak kita selama 5 tahun masa perkuliahan, tanpa perlu mendaftar ulang dan ikut seleksi beasiswa setiap tahun ajaran baru seperti beberapa jenis beasiswa lainnya, tetapi dengan syarat IPK harus lebih besar atau sama dengan 3,25 keatas. Kalau IPK di bawah dari standar, maka kontrak akan di putuskan secara sepihak. Nilai dari beasiswa ini pun tergolong besar di bandingkan beasiswa yang lainnya.
Bayangkan jika saya harus kehilangan kesempatan tersebut hanya karena nilai saya tidak sesuai standar atau persyaratan. Betapa apes atau bodohnya saya jika kehilangan beasiswa tersebut, sementara banyak orang yang berharap bisa memiliki beasiswa tersebut.
Tapi, syukur-nya, persyaratan tersebut tidak berlaku untuk tahun pertama kuliah, alias untuk tahun pertama, IPK boleh di bawah standar, akan tetapi memasuki tahun kedua atau semester 3, IPK harus sesuai standar persyaratan. Bayangkan, IPK, bukan IP. Saya yakin pembaca tahu kan bedanya apa. Jika di persyaratan itu berbicara IP, maka saya mungkin tidak setakut itu, akan tetapi persyaratannya adalah IPK, komulatif!! Dengan IP semester pertama 3.00, maka untuk semester selanjutnya IP saya harus 3.5 untuk dapat IPK 3.25. Dapatkah kamu bayangkan??? Jujur, saat itu saya merasa tidak mampu bisa meraih IP tersebut, ditambah lagi dengan persaingan yang ketat pun saya sudah tahu kemampuan saya dibandingkan teman-teman sekelas saya. Saya rasa tidak mungkin. Saat itu saya down, saya kurang percaya diri. Tidak mungkin saya bisa mendapatkan IP 3.5 semester selanjutnya, jika dilihat dari apa yang saya peroleh semester ini.
Tapi, entah saat itu kekuatan dari mana, ada sedikit keyakinan bahwa saya tidak boleh menyerah. Dengan usaha dan doa, saya yakin kalau saya pasti bisa. Bukan hal mungkin untuk memperbaiki, karena saya masih punya kesempatan satu semester lagi.
Mulailah saya mengubah pola hidup saya. Saya mengatur jadwal belajar, pun jadwal sehari-hari. Ada banyak perubahan yang saya lakukan. Berikut saya rincikan:
- Saya harus duduk di depan saat perkuliahan, mendengar, kemudian mencatat.
- Materi yang akan saya kuliahi besok, harus saya pelajari dulu malam harinya agar saya ada persiapan, dan saya membuat daftar pertanyaan yang tidak saya mengerti tentang materi tersebut agar bisa saya tanyakan kepada dosen saya.
- Catatan selama perkuliahan, harus saya salin sepulang kuliah, sembari menambahkan penjelasan menurut versi saya sendiri yang saya pahami dan saya tambahkan menurut versi buku yang saya baca.
- Jadwal kegiatan harian saya atur, dimana pukul 08.00-14.00 (kegiatan perkuliahan), 14.00-16.00 (praktikum/buat laporan/istirahat), 16.00-18.00 (menyalin catatan perkuliahan hari ini), 18.00-20.00 (shalat dan mengaji (wajib)), 20.00-22.00 (memperlajari materi perkuliahan esok hari).
Dan berputarlah saya di jadwal ini. Setiap hari, selama satu semester, dan entah kekuatan dari mana (mungkin karena takut kehilangan beasiswa) membuat saya istiqomah tidak melanggar jadwal yang saya buat sendiri. Tidak lupa pula selalu saya barengi dengan doa dan ibadah yang lebih intens lagi dari sebelumnya.
Hasilnya......
Percaya atau tidak, Allah Maha Besar, IP saya 3.53 saat semester 2. Dan yang paling ajaib, nilai kimia dasar saya C pada semester pertama, hanya satu atau dua orang yang mendapatkan nilai A, karena dosen mata kuliah saya pada semester ini menilai dengan sangat objektif. Jujur. Tidak melebihkan maupun mengurangi. Dan alhasil, pada semester 2, saya mendapatkan nilai A, dengan dosen yang sama pula dengan semester pertama. Dengan hanya segelintir orang juga yang mendapatkan nilai sempurna. Dan nilai ini murni, tidak ada kerjasama.
Saya begitu bersyukur saat itu, apa yang saya doakan, apa yang saya usahakan benar-benar terwujud. Akhirnya saya bisa mempertahankan beasiswa saya dengan IPK 3.26.
.....................................
Tapi perjuangan ini belum berakhir
Semester berikut-berikutnya pun saya lewati dengan berjuang, cuma untuk semester selanjutnya, saya tidak se-rajin semester kedua, tapi tidak semalas semester pertama. Dan alhamdulillah IP saya tidak turun, pun IPK. Dan beasiswa pun tetap saya pertahankan.
Beranjaklah saya ke semester akhir. Saat semester 6 dan 7, IPK saya pas, 3.50. Berjuanglah saya kembali, bahwa saya berada pada ambang batas, atau tepi jurang, dimana saya ingin dan punya harapan untuk lulus dengan predikat cumclaude. Akan tetapi IPK segitu belum bisa mencukupi untuk bisa mendapat predikat cumclaude, karena syarat cumclaude adalah IPK harus lebih besar dari 3.50 (bukan lebih besar sama dengan 3.50), yang berarti saya bisa cumclaude jika IPK saya 3.51. Saya membutuhkan 0.01 point lagi untuk bisa mendapatkan predikat cumcalude.
Berjuanglah saya kembali, dengan usaha dan doa. Ada sedikit ke-optimis-an sebesar 60%, akan tetapi 40%-nya adalah pesimis. Tidak gampang bisa mendapatkan nilai A pada skripsi. Dan kembalilah saya risau lagi "bisa gak ya? insyaallah bisa, tapi kayaknya susah juga".
Dan ternyata, karena rejeki emang gak kemana, berkat usaha dan doa, akhrinya saya bisa lulus dengan predikat cumclaude dengan IPK 3.52. Sedikit memang, tidak seperti yang lainnya yang lulus dengan IPK 3.8-an. Jadi karena IPK yang saya peroleh pas-pasan untuk memenuhi syarat predikat cumclaude, sampai saat ini saya percaya, bahwa, saya hanya beruntung. Allah Maha Baik, memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan predikat sesuai yang saya inginkan, sekalipun dengan nilai yang tidak seberapa, hanya memenuhi syarat saja. Orang yang tahu saya cumclaude, ditambah dengan jurusan yang bisa dibilang sulit, mungkin berpikir saya '.....', tapi jujur, saya tidak pintar. Pun hebat. Saya hanya beruntung. Murni faktor beruntung, hasil dari usaha dan doa. Orang pintar, lulus dengan IPK 3.6~3.9~4. Sedangkan saya hanya 3.52. Nyaris saja tidak mendapatkan predikat cumclaude.
Dan predikat ini sesuai dengan apa yang saya impikan. Yang saya impikan hanya predikat cumclaude, entah itu hanya dengan point 3.51. Entah itu cumclaude karena beruntung, atau cumclaude karena memang pintar. Yang penting cumclaude.
Kenapa?
Karena, saya ingin jadikan ini hadiah untuk kedua orang tua saya. Mungkin untuk sebagian mahasiswa tidak mengharapkan untuk bisa mendapatkan predikat cumclaude, tidak dengan saya. Saya yakin dan percaya, orang tua saya akan bangga jika saya wisuda, dan bangganya bernilai plus jika saya bisa menyelesaikan dengan predikat cumclaude. Setidaknya ini menunjukkan bahwa saya kuliah, jauh, merantau ke daerah orang, punya hasil yang bukan sekedar baik, tapi memuaskan, bahkan istimewa. Percaya deh, sekarang tanya orang tua masing-masing, bangga gak kalau anaknya cumclaude? You have your own answer.
NB : Saya tidak menulis postingan ini untuk membanggakan diri atau sejenisnya, i swear, ini murni cerita hidup saya yang ingin saya bagikan tentang bagaimana saya menyelesaikan kuliah dengan perjuangan untuk mendapat predikat cumclaude, tanpa ada embel-embel sombong dan sebagainya. Please think positively. Entah kenapa saya hanya ingin menulis. Syukur-syukur jika ada yang termotivasi, Untuk yang masih kuliah, semangat terus ya!!!
Regards,
Ika
Sunday, February 28, 2016
I Miss My Old Friend
Guess, what i do right now?!
Yeah, duduk manis di kamar menikmati detik terakhir weekend yang sangat berharga. Penat di depan komputer selama 5 hari dengan pekerjaan yang segede jaban, pun tekanan mental sana sini. Dan weekend saya isi dengan berkutat dengan komputer lagi hahaha. FLAT.
Sebenarnya banyak hal yang ingin saya tulis, terutama saat saya merasa its my best moment or worst moment atau saat pikiran saya sedang kacau, dan bahkan kadang-kadang ketika saya selesai baca buku. Yah, pikiran nomaden, nggak berdiam di satu tempat, berkelana kesana kemari, hingga saat ada kesempatan untuk menulis, bahan tulisan pun sirna entah kemana.
Saya ingat dulu saat kelas 2 SMP, saya sudah bercita-cita untuk study abroad. Pun ketika SMA, dan berlanjut hingga kuliah, dan sampai detik ini. Dan sayangnya, it's still be a dream :'( mungkin Allah belum ngasi ijin, or maybe ada jalan lain untuk bisa keluar negeri tanpa harus study abroad. Dan terdamparlah saya di dunia perkantoran yang sangat jauh dari major study saya.
Cerita sedikit tentang dunia kerja, percaya deh, nggak senikmat saat kuliah. Dan hal yang paling menonjol adalah, kamu tidak akan menemukan teman atau sahabat yang benar-benar 'teman' seperti saat kuliah maupun sekolah. That is why i write this post. Yeah, i miss my old friend. Apa yang teman-teman dan sahabat saya punya dan apa yang saya rasakan saat bersama mereka jauh berbeda dengan yang saya rasakan sekarang.
Saya punya sahabat saat kuliah, kami beranggotakan 4 orang, semuanya wanita. Kami selalu kerja tim, sampai ujian pun kerja tim (jangan di tiru ya!). Saat ada yang jatuh, kami support dengan tidak sepenuhnya mendukung tapi mengingatkan mana yang baik. Dan kami tidak pernah menjelekkan satu sama lain di belakang. Karena kami menjelekkan langsung di depan. Sure, dan itu sangat baik. Coba bayangkan, kamu buruk dan kamu tidak melihat keburukan kamu, kemudian orang lain mencibir dengan cara ngomong di belakang menjelek-jelekkan bahkan memberi solusi, tapi di belakang, emang guna?? Selama yang di cibir gak tau dia salah dan orang lain tersebut tidak memberi tahu kesalahan dan memberi solusi secara langsung, jelas perubahan gak bakal terjadi. That is what i feel now.
Saat ini partner kerja saya mungkin banyak yang omongin kejelekan saya di belakang, dan jadilah saya yang tidak berubah dan tetap salah di mata mereka yang kemudian dijadikan bahan gosip kembali. Well, ini di luar pengetahuan saya, saya hanya memperkirakan. Kenapa saya memperkirakan? Karena that what they do to another person, mereka menceritakan keburukan orang lain kepada saya. Kepada saya! Kita semua tahu, when someone bicarain orang lain di belakang, that what they will do to u dengan menceritakan keburukan kamu ke orang lain. Huft. Kadang saya selalu ingat sahabat saat saya kuliah, ternyata yang benar-benar sahabat seperti mereka tidak ada. Atau mungkin saya belum menemukan pengganti :') Belum lagi, sialnya, kalau dapat partner kerja yang kepo kemudian melanggar batas privacy. Its the worst.
Kemudian selama saya kerja, ketika ada kesempatan untuk berkumpul dan bicara, apa yang saya dapatkan adalah rekam jejak keburukan orang lain. Ya, u know bahwa akan ada banyak pembicaraan tentang keburukan orang lain bahkan sampai ke hal-hal yang seharusnya tidak layak di bahas bersama karena itu privacy dan bisa jadi aib (u know what i mean).
Untuk cari sahabat yang benar-benar tulus, saya rasa its impossible to find out karena dunia kerja adalah dunia cari muka. Ketika kamu banyak muka di depan atasan, kamu akan ngehits kemudian di sukai padahal kinerja buruk dan well kamu dengan mudahnya akan dapat sponsor. Tapi hukum ini mungkin tidak berlaku di semua perusahaan swasta atau negeri.
Berbeda sekali saat saya kuliah, ketika berkumpul, sometime memang membicarakan keburukan orang lain, tapi tidak jarang pula pengetahuan saya bertambah. Mulai dari teknologi yang terbaru saat ini, bahkan sampai berita terkini yang lagi hits, kita bahas berdasarkan cara pandang kita masing-masing dan tidak ada keles sama sekali. Banyak hal baru yang kita ketahui, ya walaupun hanya sekedar "drama korea yang hits sekarang apa ya?". But its useful. Nggak ada tuh yang buka aibnya sendiri pun melanggar batas privacy teman yang lain, karena kita semua tau etika dan batas pertemanan sampai dimana. Tidak semuanya harus di bahas.
Tapi, tidak mungkin kan untuk kembali ke masa kuliah dulu. Apa yang saya hadapi sekarang itulah yang harus saya jalani. Emangnya useetv bisa di rewind, kita mah live a life yang nggak punya tombol rewind.
Sebenarnya saya ingin share picture bersama sahabat saya, tetapi, unlucky, handphone saya hilang. Raib tidak berjejak :'(
Doain ya semoga ada pengganti yang lebih baik. Ammiiinnnn.............
Selamat berhari minggu
With love,
Ika
Yeah, duduk manis di kamar menikmati detik terakhir weekend yang sangat berharga. Penat di depan komputer selama 5 hari dengan pekerjaan yang segede jaban, pun tekanan mental sana sini. Dan weekend saya isi dengan berkutat dengan komputer lagi hahaha. FLAT.
Sebenarnya banyak hal yang ingin saya tulis, terutama saat saya merasa its my best moment or worst moment atau saat pikiran saya sedang kacau, dan bahkan kadang-kadang ketika saya selesai baca buku. Yah, pikiran nomaden, nggak berdiam di satu tempat, berkelana kesana kemari, hingga saat ada kesempatan untuk menulis, bahan tulisan pun sirna entah kemana.
Saya ingat dulu saat kelas 2 SMP, saya sudah bercita-cita untuk study abroad. Pun ketika SMA, dan berlanjut hingga kuliah, dan sampai detik ini. Dan sayangnya, it's still be a dream :'( mungkin Allah belum ngasi ijin, or maybe ada jalan lain untuk bisa keluar negeri tanpa harus study abroad. Dan terdamparlah saya di dunia perkantoran yang sangat jauh dari major study saya.
Cerita sedikit tentang dunia kerja, percaya deh, nggak senikmat saat kuliah. Dan hal yang paling menonjol adalah, kamu tidak akan menemukan teman atau sahabat yang benar-benar 'teman' seperti saat kuliah maupun sekolah. That is why i write this post. Yeah, i miss my old friend. Apa yang teman-teman dan sahabat saya punya dan apa yang saya rasakan saat bersama mereka jauh berbeda dengan yang saya rasakan sekarang.
Saya punya sahabat saat kuliah, kami beranggotakan 4 orang, semuanya wanita. Kami selalu kerja tim, sampai ujian pun kerja tim (jangan di tiru ya!). Saat ada yang jatuh, kami support dengan tidak sepenuhnya mendukung tapi mengingatkan mana yang baik. Dan kami tidak pernah menjelekkan satu sama lain di belakang. Karena kami menjelekkan langsung di depan. Sure, dan itu sangat baik. Coba bayangkan, kamu buruk dan kamu tidak melihat keburukan kamu, kemudian orang lain mencibir dengan cara ngomong di belakang menjelek-jelekkan bahkan memberi solusi, tapi di belakang, emang guna?? Selama yang di cibir gak tau dia salah dan orang lain tersebut tidak memberi tahu kesalahan dan memberi solusi secara langsung, jelas perubahan gak bakal terjadi. That is what i feel now.
Saat ini partner kerja saya mungkin banyak yang omongin kejelekan saya di belakang, dan jadilah saya yang tidak berubah dan tetap salah di mata mereka yang kemudian dijadikan bahan gosip kembali. Well, ini di luar pengetahuan saya, saya hanya memperkirakan. Kenapa saya memperkirakan? Karena that what they do to another person, mereka menceritakan keburukan orang lain kepada saya. Kepada saya! Kita semua tahu, when someone bicarain orang lain di belakang, that what they will do to u dengan menceritakan keburukan kamu ke orang lain. Huft. Kadang saya selalu ingat sahabat saat saya kuliah, ternyata yang benar-benar sahabat seperti mereka tidak ada. Atau mungkin saya belum menemukan pengganti :') Belum lagi, sialnya, kalau dapat partner kerja yang kepo kemudian melanggar batas privacy. Its the worst.
Kemudian selama saya kerja, ketika ada kesempatan untuk berkumpul dan bicara, apa yang saya dapatkan adalah rekam jejak keburukan orang lain. Ya, u know bahwa akan ada banyak pembicaraan tentang keburukan orang lain bahkan sampai ke hal-hal yang seharusnya tidak layak di bahas bersama karena itu privacy dan bisa jadi aib (u know what i mean).
Untuk cari sahabat yang benar-benar tulus, saya rasa its impossible to find out karena dunia kerja adalah dunia cari muka. Ketika kamu banyak muka di depan atasan, kamu akan ngehits kemudian di sukai padahal kinerja buruk dan well kamu dengan mudahnya akan dapat sponsor. Tapi hukum ini mungkin tidak berlaku di semua perusahaan swasta atau negeri.
Berbeda sekali saat saya kuliah, ketika berkumpul, sometime memang membicarakan keburukan orang lain, tapi tidak jarang pula pengetahuan saya bertambah. Mulai dari teknologi yang terbaru saat ini, bahkan sampai berita terkini yang lagi hits, kita bahas berdasarkan cara pandang kita masing-masing dan tidak ada keles sama sekali. Banyak hal baru yang kita ketahui, ya walaupun hanya sekedar "drama korea yang hits sekarang apa ya?". But its useful. Nggak ada tuh yang buka aibnya sendiri pun melanggar batas privacy teman yang lain, karena kita semua tau etika dan batas pertemanan sampai dimana. Tidak semuanya harus di bahas.
Tapi, tidak mungkin kan untuk kembali ke masa kuliah dulu. Apa yang saya hadapi sekarang itulah yang harus saya jalani. Emangnya useetv bisa di rewind, kita mah live a life yang nggak punya tombol rewind.
Sebenarnya saya ingin share picture bersama sahabat saya, tetapi, unlucky, handphone saya hilang. Raib tidak berjejak :'(
Doain ya semoga ada pengganti yang lebih baik. Ammiiinnnn.............
Selamat berhari minggu
With love,
Ika
Subscribe to:
Posts (Atom)