Wednesday, May 9, 2018

Masa Transisi

Akirnya, setelah sekian lama ngidam pengen nulis, hamdalah terlaksana juga. As the title, i want to talk about Masa Transisi. Of course it's about my life.

Kita semua mungkin pernah mengalami yang namanya masa transisi, mungkin juga tidak. Jadi masa transisi yang saya maksud disini adalah masa transisi dari masa remaja menuju dewasa. Tapi tidak semua orang memiliki masa transisi di usia seperti saya saat ini. Ada yang mengalami masa transisi di usia lebih muda, dimana keadaan memaksa mereka untuk berpikir dewasa. Ada pula yang di usia hingga 30 tahun, belum mengalami masa transisi sama sekali.

Kenapa saya menyebutnya masa transisi? 

Ini berawal dari chat message dengan seorang teman lama, he open my eyes. He has been passed 'masa transisi' juga yang ternyata jauh lebih berat dibandingkan apa yang saat ini saya alami.

Masa transisi seperti apa yang saya alami sekarang?

Well, start in 2015 when i just graduated. Setelah pindah kerumah (pulang kampung), saya tahu bahwa hubungan kedua orang tua saya tidak "baik-baik saja". My dad start cheating in 2013 then my mom keep it secret to me since that time karena Mama tidak mau permasalahan ini mengganggu aktivitas belajar saya. Bagi orang lain, perkara rumah tangga like ayah atau ibu selingkuh or other stuff yang buat mereka decided divorce adalah hal biasa. Karena kasus ini tidak jarang ditemui. Seperti saya melihat sahabat saya, Linda, yang dulu saat kuliah harus survive karena broken home, saya melihatnya biasa saja saat itu. Saya kasihan, tapi saya belum tahu bahwa ternyata saat itu dia rapuh banget seperti saya sekarang. 

Perkara inilah yang akhirnya mengubah diri saya, yang dulunya super excited person turn to be more tertutup. Yang dulunya excited over things easily menjadi lebih mati rasa dan sering sedih. Perkara broken home ini pun bukan satu-satunya hal ups and downs yang saya alami di masa transisi ini. 

Saya mulai bekerja di subcont PT NNT akhir 2015, kemudian merasa bosan dengan lingkungan kerja, lelah dengan keadaan dirumah, kemudian saya berambisi untuk catch my other goal untuk kuliah keluar negeri, all i want was go out from this place, yang akhirnya memutuskan saya untuk pindah ke BPOM. At first, i thought that it would be super fun, karena orang-orang yang saya temui pintar dan cerdas dan mereka keren semua, thats what i need. Tapi lagi-lagi, Allah teach me bahwa apa yang kita inginkan dan pikir yang terbaik, belum tentu benar-benar baik. Hingga bulan ketiga bekerja, kondisi dirumah semakin memburuk yang akhirnya membuat Mama memaksa saya untuk pulang dan mencari pekerjaan yang tidak jauh dari rumah. Selama hampir 3 bulan Mama membujuk saya untuk pulang, dan kemudian saya memutuskan untuk pulang, the reason is simple, i just want to make my mom happy dengan mengikuti keinginan beliau, because i know she need me, dan percaya bahwa restu orang tua adalah kunci utama untuk sukses dunia dan akhirat.

Saya pun kembali bekerja di-subcont yang lama, dan tepat 6 bulan setelah saya kembali, saham perusahaan induk PT NNT di jual ke Medco Group (sekarang PT Amman Mineral) dan itu berimbas ke perusahaan saya yang akhirnya berujung ke PHK, tepat di bulan Desember 2017. Allah menguji kembali kesabaran saya, banyak pelajaran yang saya ambil saat itu. Salah satunya yang masih saya ingat sampai saat ini adalah ketika teman kerja saya dulu, merekomendasikan saya bekerja diperusahaannya, tepat saat perusahaannya deal dapat kontrak dengan PT Amman. Saat itulah saya belajar tentang untuk tidak berharap lebih kepada manusia, karena ternyata setelah perusahaannya deal kontrak, i’m not her priority untuk ikut bergabung karena sesuatu dan lain hal. Actually it still hurt until now, and i do still remember. Harapan saya besar sekali saat itu, karena kondisi keluarga saya yang semakin rumit, bertepatan dengan Bapak saya akhirnya menikah siri dengan perempuan lain yang berdampak pada keuangan keluarga, ditambah lagi karena bisnis online saya yang keuntungannya harus dibagi 4 saat itu. I was down, angry, sad, sampai level mengurung diri dan nangis berhari-hari. I was lost at the time. Then finally, i still survive, i can be sad all whole time, but i should move karena tanggungan saya banyak, mulai cicilan rumah hingga bayar wifi. I should get money at the time and i should move.

Syukurnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu support. Sahabat dan teman hidup yang baik. Pada akhirnya, sekarang, i end up mengabdi pada negara dan serius mengurus bisnis saya. Kita tidak menyangka where and how life bring us. Dulu saat kuliah, i was skeptic ke orang-orang yang mengabdi pada negara, i mean like mereka harus kerja banyak dan di bayar sedikit padahal mereka punya chance untuk mencari pekerjaan yang lain, pun tentang usaha online, karena usaha ini menjamur banget di era millenial sekarang, i was never imagine that my online business bisa berkembang dengan baik seperti sekarang. Tapi apa yang membuat saya bertahan dan menjadi sangat bersyukur berada di level sekarang?! Its because everything not only about money. Saya menemukan tempat kerja yang suasananya seperti rumah pun bisa buka usaha yang ternyata fun dan menjanjikan. 

Dulu saya selalu gelisah karena ambisi mengejar dunia, like i should kerja di perusahaan bonafit dengan gaji tinggi, harus berpendidikan tinggi yang lulus dari universitas ternama, padahal belum tentu itu semua mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan serta bisa membuat kita merasa berkecukupan. Allah teach me really well. And now, i feel more stronger karena beratnya masalah yang sudah saya lewati membuat saya ringan menghadapi masalah yang menurut orang lain berat. I'm still excited dan penasaran, pelajaran apalagi yang Allah akan berikan. Semoga bisa saya lalui dengan baik dan bisa jadi penambah berat timbangan pahala di akhirat kelak. Sekian cerita Masa Transisi dari saya.


Lets cry, angry, and sad, but make sure after that we should move.


Ika
09 Mei 2018 (8 hari lagi akan bertambah usia)