Sebelum mulai membahas, fyi saya juga anak rantau :))
Saya berasal dari Sumbawa dan merantau ke ibukota provinsi, Mataram. Sejak lulus SMP saya merantau dan melanjutkan pendidikan SMA di kota mataram, jadi kalau di kalkulasikan, saya sudah merantau lebih dari 6 tahun dan hidup jauh dari orang tua. Jika dilihat dari lamanya waktu merantau, bisa dikatakan sudah berpengalaman untuk hidup mandiri, tapi itu tidak menjadi tolak ukur yang akurat, menurut penilaian saya sendiri yang menilai diri saya sendiri, saya belum cukup berpengalaman hidup mandiri. Kenapa? saya masih minta duit orang tuaaaa :'( saya masih suka ngeluh kalau ada masalah yang terkadang orang tua saya yang menyelesaikan, saya masih sering nangis, dan sebagainya. Tapi di balik itu semua saya bersyukur, some people mungkin yang kurang beruntung harus bekerja di daerah orang jauh dari orang tua untuk dapat melanjutkan sekolah/kuliahnya :') but they will be a success. Pasti. Proses kan tidak pernah mengkhinati hasil :))
Karena lama-nya waktu yang saya lewati jauh dari tanah kelahiran dan orang tua, saya belajar banyak. Banyak sekali. Pikiran saya lebih terbuka, saya lebih tau perbandingan kebudayaan Lombok dan Sumbawa, suka duka menjadi anak rantau pun saya alami, termasuk (maaf) ketika saya harus berhadapan dengan orang-orang rasis, ketika saya harus menjadi kaum minoritas, dan banyak lagi. Saya tidak mau membahas lebih jauh tentang ke-rasis-an, karena you know-lah, di balik sila ketiga pancasila, perbedaan adat dan budaya (sekalipun sama2 Indonesia) yang berujung ke paradigma konyol masih saja (terkadang) dijadikan alasan untuk men-judge satu sama lain. Karena ada yang lebih miris sekali yang harus saya bahas. anak rantau itu sendiri.
Berawal dari definisi anak rantau. anak rantau adalah......... bla bla bla. Intinya, anak yang meninggalkan kampung halamannya jauh dari keluarga dengan alasan tertentu. Nah disini saya akan bahas yang lebih spesifik. Anak rantau yang merantau untuk mengenyam pendidikan. nah! ini dia. saya terkadang bangga, menjadi anak rantau.
Anak rantau dilatih untuk lebih mandiri. Anak rantau dilatih untuk survive. Di usia SMA, untuk saya sendiri sudah harus merasakan perasaan 'tidak enak' minta uang terus sama orang tua sementara anak-anak lainnya baru merasakan itu ketika mereka lulus kuliah/wisuda. Anak rantau harus bisa mengatur keuangan. kalau boros, akan dimarahi orang tua karena jumlah uang yang dikirimkan habis sebelum waktunya, anak rantau harus mengurus segalanya sendiri. Dari bagian yang bisa dikatakan menyedihkan ini, ada satu bagian yang sangat dinantikan oleh kebanyakan anak di usia remaja, kebebasan. Nah! Anak rantau bebas mau kemana saja, toh walaupun di telpon setiap hari, ditanyakan sedang apa, dimana, dan sebagainya, anak rantau bisa saja mengarang cerita ke orang tua, toh orang tua tidak tahu. Jujur, dari saya sendiri, saya pernah melewati tahap ini, ya namanya juga remaja, selama bohongnya gak sampe mencelakai diri sendiri (saya cari pembenaran nih hahahah jangan diikutin ya). Tapi jujur untuk bagian kebebasan ini, bukan menjadi alasan kenapa saya ingin sekolah di luar daerah. Alasannya karena pendidikan di kota jauh lebih baik daripada pendidikan di kampung. kita semua tahu itu.
Orang tua saya rela membiayai sekolah keluar daerah dengan fasilitas memadai yang mendukung pendidikan saya (alhamdulillah) bisa dipenuhi, jika dibandingkan anak-anak rantau yang lainnya yang bahkan orang tuanya tidak mampu membiayai biaya sekolah mereka, saya masih tetap bersyukur dengan keadaan saya.
Dibalik adanya anak rantau yang ingin sekali sekolah setinggi-tingginya tetapi tidak di dukung kebutuhan finansial dan kurangnya support orang tua yang akhirnya berhenti sekolah atau ada yang dengan gagah berani membiayai sekolahnya sendiri, justru ada anak rantau yang kebutuhan finansial dan dukungan dari orang tuanya sangat tinggi, fasilitasnya dicukupkan, apapun yang diinginkan di beri demi pendidikan anaknya sekalipun orang tua harus banting tulang dari pagi sampai malam, eh tapi si anak rantau malah menganut paham hedonisme, tidak belajar dengan sungguh-sungguh, terlalu mementingkan kehidupan percintaan, gila kebebasan, dan sebagainya. Adaaaaa. Dan ini yang dilakukan sebagian anak rantau lainnya
Saya sebagai saudara sesama anak rantau miris harus melihat saudara sesama rantau yang ketika pulang kampung di berjilbab sopan, saat balik ke rantauan sudah macam ...... ah entah apa bahasa sopannya. Sedih melihat bagaimana teman-teman yang bukan anak rantau dengan antusias belajar yang tinggi, sedangkan anak rantau yang seharusnya antusias belajarnya 2x lebih tinggi malah sibuk main-main, menghabiskan waktu pacaran, telponan, jalan-jalan,bergaya sana sini, sok ke-kota-kotaan yang kampungan, pamer motor yang di modifikasi entah berbagai macam rupa, balap, nongkrong di club malam dan sebagainya sedangkan disekolah nilai jeblok, ipk parah. terus gunanya merantau apa? kalau malah mengubah moral menjadi semakin buruk.
Kita terlalu banyak menggunakan waktu kebebasan yang orang tua kita percayakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Oke, nilai atau ipk tidak menjadi tolak ukur orang sukses, lantas tau tidak apa yang bikin orang tua bangga disaat anak-anaknya sedang mengenyam pendidikan? Mereka bahagia melihat anak-anaknya sekolah yang rajin, dan jauuh lebih bangga dan bahagianya jika nilai sekolah atau ipk yang baik, itu saja, sederhana bukan?! Sehingga keringat dan darah orang tua tidak terbuang sia-sia.
Tapi dari kita, anak rantau, sedikit yang menyadari. justru gila dengan kebebasan. congkak. karena kecongkakan inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya pendapat salah tentang kaum minoritas oleh kaum mayoritas.
Semoga kita semua, anak rantau, bisa menjadi lebih baik
Salam, ika.
No comments:
Post a Comment